Pupuk Organik dan MOL, Solusi Atasi Tanah Keras Petani Kaltim

  • 26 Feb 2026 11:46 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Keluhan petani terkait mahalnya pupuk dan kondisi tanah yang semakin keras menjadi perhatian dalam Dialog Interaktif Pro1 Radio Republik Indonesia RRI Samarinda, dalam program Suara Nusantara. Dengan tema pupuk organik dan mikroorganisme lokal (MOL), dinilai relevan untuk menjawab tantangan pertanian saat ini, khususnya di Kalimantan Timur.

Penyuluh dan praktisi pertanian Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kaltim, Rosdina Napitupulu, mengatakan biaya pupuk menjadi komponen terbesar dalam struktur produksi petani. “Saat ini pupuk termasuk barang yang mahal kalau dilihat dari hasil pertanian. Cost paling banyak di pertanian itu adalah pupuk, sehingga menjadi masalah bagi petani karena modal mereka paling banyak di situ,” ujarnya, dikutip Kamis, 26 Februari 2026.

Ia menjelaskan, selain mahal, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus tanpa diimbangi pupuk organik berdampak pada struktur tanah. “Lahan pertanian saat ini banyak mengalami pengerasan. Struktur tanah menjadi padat, sehingga tidak mampu menyimpan air maupun unsur hara,” kata Rosdina.

Menurutnya, kondisi tanah yang padat menyebabkan pupuk yang diberikan tidak terserap optimal. Akibatnya, tanaman tidak memperoleh unsur hara yang cukup meskipun pemupukan dilakukan berulang. “Ketika pupuk diberikan lalu turun hujan, pupuk itu bisa hilang karena tercuci. Tanah kita tidak mampu menyimpan nutrisi yang diberikan,” ucapnya.

Rosdina menambahkan, penggunaan pupuk kimia memang memberikan efek cepat pada tanaman. Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan berlebihan tanpa penyeimbang organik akan memperburuk kondisi tanah dalam jangka panjang. “Kalau kita beri urea hari ini, dua atau tiga hari kemudian tanaman sudah terlihat hijau. Karena sifatnya instan dan cepat diserap,” ujarnya.

Ia menekankan, mikroorganisme tanah berperan penting dalam menjaga kesuburan dan keseimbangan ekosistem lahan. “Tapi yang perlu dicatat adalah, apapun yang berlebihan itu tidak baik, termasuk pupuk kimia tanpa diimbangi pupuk organik. Tanah akan mengalami pemadatan, mikroba berkurang, dan kemampuan menyimpan air menurun,” kata Rosdina.

Lebih lanjut, ia mengibaratkan tanah sebagai makhluk hidup yang perlu dijaga kesehatannya. Bahan organik menjadi sumber karbon yang dibutuhkan mikroba untuk bertahan dan berkembang. “Bahasa awamnya, tanah itu perlu makan. Artinya, kita harus menjaga kesehatannya dengan bahan organik agar mikroorganisme punya sumber energi,” ucapnya.

Di Kalimantan Timur, tingginya curah hujan juga mempercepat proses pencucian dan dekomposisi bahan organik. Karena itu, keseimbangan antara pupuk organik dan anorganik sangat diperlukan. “Perlu memasukkan pupuk organik secara seimbang dengan pupuk kimia agar tercipta tanah yang sehat sebagai tempat tanaman tumbuh,” ujar Rosdina.

Melalui pemanfaatan pupuk organik dan mikroorganisme lokal (MOL), petani diharapkan dapat menekan biaya produksi sekaligus memulihkan struktur tanah. Pendekatan ini menjadi solusi berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas pertanian tanpa merusak kualitas lahan dalam jangka panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....