Bank Sampah Faperta Unmul Samarinda Dorong Edukasi dan Ekonomi

  • 20 Feb 2026 14:13 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda — Bank sampah dinilai sebagai langkah konkret yang tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan edukasi bagi masyarakat, khususnya di Kota Samarinda. hal itu disampaikan Direktur Bank Sampah Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Faperta Unmul) Samarinda, Ananda Bayu Saputra, kepada RRI dalam program Green Radio Pro1 Samarinda.

Bayu mengatakan, jumlah bank sampah di Kota Samarinda terus bertambah setiap tahun. “Untuk wilayah Kota Samarinda, jumlah bank sampah sudah mencapai sekitar 100 unit, bahkan lebih saat ini,” ucap Bayu, dikutip Jumat 20 Februari 2026.

Menurutnya, keberadaan forum bank sampah turut membantu masyarakat memperoleh informasi dan memperkuat jejaring antar pengelola. “Masyarakat sudah cukup tahu, karena di forum tersebut kami berbagi dan saling berbagi informasi terkait jumlah dan sebaran bank sampah di kecamatan hingga kelurahan,” kata Bayu.

Dalam dialog tersebut, Bayu juga membahas persoalan sampah elektronik yang masih sering tercampur dengan sampah rumah tangga. Ia menjelaskan, sampah elektronik tergolong limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). “Beberapa barang elektronik mengandung senyawa kimia yang tidak boleh dicampur dengan sampah organik maupun anorganik, seperti batu baterai,” ucapnya.

Ia menegaskan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar mulai memilah sampah dari rumah. “Mari mulai memilah sampah dari rumah atau tempat tinggal masing-masing, pisahkan organik, anorganik, dan B3 agar memudahkan petugas kebersihan,” kata Bayu.

Sementara itu, Mahasiswa Faperta Unmul sekaligus anggota Bank Sampah Faperta, Arnold Sereno Gultom, menambahkan di lingkungan Universitas Mulawarman sendiri terdapat tiga bank sampah yang berada di bawah binaan mereka. “Tidak hanya di kampus, beberapa desa juga sudah menjadi binaan kami dalam pengelolaan bank sampah,” ujar Arnold.

Arnold turut menyoroti kondisi di lapangan yang menunjukkan masih banyak sampah tercampur menjadi satu. “Kasihan petugas di lapangan, karena mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk memilah sampah yang seharusnya sudah dipisahkan sejak dari rumah,” ujarnya.

Melalui edukasi berkelanjutan dan kolaborasi antara kampus, komunitas, serta masyarakat, keberadaan bank sampah di Samarinda diharapkan semakin memperkuat budaya peduli lingkungan. Program ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga mendorong kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan kota secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....