Pentingnya Apresiasi Anak untuk Perkuat Kesehatan Mental
- 18 Feb 2026 09:22 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kalimantan Timur menempati posisi yang cukup mengkhawatirkan dalam statistik kesehatan mental nasional. Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Yuli Wulandari dalam program Indonesia Layak Anak (IDOLA) di Pro1 RRI Samarinda, Minggu, 1 Februari 2026, sekitar 50 persen remaja di Kaltim terindikasi mengalami gangguan mental, sebuah angka yang menuntut perhatian serius dari seluruh elemen pendidikan.
Tingginya angka ini seringkali dipicu oleh tekanan akademik dan ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap hasil akhir tanpa memedulikan proses. Banyak remaja yang mengalami burn out atau stres karena merasa tidak dihargai jika tidak mencapai prestasi tertentu. Hal inilah yang menjadi pemicu pentingnya mengubah paradigma apresiasi dalam pendidikan.
"Kalimantan Timur sendiri itu menduduki peringkat kedua. Sekitar 50 persen remaja Kaltim itu mengalami gangguan mental," ujar Yuli.
Sebagai solusi, Yuli menekankan pentingnya memberikan apresiasi kepada anak dalam setiap proses perjuangannya, meskipun hasil akhirnya belum mencapai kemenangan. Ia menceritakan kisah inspiratif tentang seorang murid di lembaganya yang tetap diberikan buket hadiah dan kata-kata penyemangat meskipun kalah dalam pertandingan Taekwondo.
| Baca juga: Tips Mengembalikan Jam Tidur Anak |
Apresiasi semacam ini ternyata memberikan dampak psikologis yang luar biasa bagi anak. Anak tersebut merasa sangat dihargai dan termotivasi untuk tidak berhenti berproses karena usahanya diakui. Validasi terhadap kerja keras anak jauh lebih berharga daripada sekadar merayakan medali kemenangan.
"Contohnya adalah ‘Semangat ya, Kakak. Jangan berhenti berproses dan semangat karena sudah berjuang’. Tulisan itu disimpan sampai sekarang. Katanya baru kali ini lihat ada orang kalah diapresiasi," katanya.
Selain apresiasi, menjadi pendengar yang baik bagi remaja adalah obat mujarab bagi kesehatan mental mereka. Di era sekarang, remaja membutuhkan ruang untuk bercerita dan mengeksplorasi kegelisahan mereka tanpa dihakimi. Guru dan orang tua harus memiliki ketelatenan untuk mendengarkan curahan hati anak-anak agar terbangun rasa percaya.
Menjaga kesehatan mental anak adalah investasi jangka panjang untuk kualitas hidup mereka. Dengan memberikan ruang bagi anak untuk berani mencoba tanpa takut gagal, lembaga pendidikan turut membantu menekan angka gangguan mental dan melahirkan generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki jiwa yang sehat dan tangguh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....