Literasi Inklusi, Harapan untuk Masa Depan Kaltim

  • 16 Feb 2026 15:05 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Harapan besar terhadap gerakan literasi inklusi kembali ditegaskan. Komunitas Ambara Cita yang lahir dari inisiatif relawan muda menjadi bukti bahwa gerakan kecil dapat melahirkan dampak besar bagi masyarakat. Meski sempat berjalan sendiri di Lampung, kini Ambara Cita tumbuh kembali di Samarinda dengan semangat kolaborasi.

Relawan Komunitas Ambara Cita, Lismia Nabilla, menyampaikan harapannya secara singkat namun penuh makna. Menurutnya, komunitas ini hadir untuk membuka ruang bagi mereka yang memiliki keterbatasan agar tetap dapat diterima dan berkembang melalui pendidikan. “Seperti tagline kami, menjembatani harapan dengan pendidikan. Sesederhana itu,” ucap Mia kepada RRI, dikutip Senin 16 Februari 2026.

Ia mengatakan, Ambara Cita ingin terus bertumbuh dan diterima hangat oleh masyarakat Samarinda. Harapan tersebut menjadi dorongan moral agar gerakan literasi inklusi semakin luas dan berkelanjutan. “Semoga teman-teman di Samarinda mau bergabung bersama kami untuk menjembatani harapan-harapan yang mungkin sempat terkubur,” katanya.

Meskipun di Lampung saat ini belum berjalan kembali, Mia optimistis akan muncul relawan-relawan baru yang melanjutkan estafet perjuangan. Gerakan sosial, menurutnya, tidak selalu bergantung pada satu orang, melainkan pada kesadaran kolektif untuk peduli terhadap sesama.

Sementara itu, pengurus Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kalimantan Timur, Lina Oktaviani, menekankan pentingnya literasi inklusi sebagai fondasi pembangunan daerah. “Jika literasi inklusi benar-benar dipahami dan diterapkan, Kalimantan Timur akan menjadi wilayah yang lebih adil, manusiawi, dan berkeadaban,” ujar Lina.

Ia menambahkan, dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur, semangat inklusivitas harus semakin diperkuat. Penyandang disabilitas, menurutnya, tidak boleh lagi dipandang sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai warga negara yang setara dan berdaya.

“Harapannya, masa depan Kalimantan Timur adalah masa depan yang memberi ruang bagi semua untuk tumbuh, berkembang, dan berkomunikasi secara adil,” ujarnya. Pesan ini menjadi refleksi bahwa literasi inklusi bukan sekadar program, melainkan komitmen bersama menuju masyarakat yang setara.

Kolaborasi antara komunitas, organisasi disabilitas, dan masyarakat luas sangat diperlukan. Dengan semangat kebersamaan, literasi inklusi dapat menjadi gerakan berkelanjutan yang membawa perubahan nyata, tidak hanya di Samarinda, tetapi juga di seluruh Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....