Menjemput Ketenangan di Bulan Sya’ban

  • 23 Jan 2026 22:52 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Bulan Sya’ban telah tiba, membawa pesan bagi setiap Muslim bahwa bulan suci Ramadan sudah semakin dekat. Di tengah suasana transisi ini, penting bagi kita untuk merenungkan kembali esensi ibadah yang seringkali kita lakukan setiap harinya, yaitu salat.

Ustaz Rahmatullah dalam tausiyahnya di Hikmah Pagi Pro 4 RRI Samarinda, menjelaskan salat adalah sebuah hadiah dari perjalanan Nabi Muhammad Saw yang dikenal sebagai peristiwa Isra Mikraj. Peristiwa besar tersebut tidak terjadi begitu saja, melainkan turun sebagai pelipur lara di masa yang disebut sebagai Amul Huzni atau tahun kesedihan. Saat itu, Nabi Muhammad Saw baru saja kehilangan dua sosok pelindung utama dalam dakwahnya yaitu istri tercinta, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib.

"Allah Swt memperkuat di hati spiritual psikologi Nabi, mental Nabi sehingga setelah Isra Miraj, Nabi kembali ke bumi menjadi pribadi yang lebih hebat", ujar Ustaz Rahmatullah. Perjalanan ini mengajarkan ketika manusia ditimpa kesedihan dan kesulitan, hal tersebut adalah fitrah manusiawi yang dialami bahkan oleh Rasul sekalipun.

Pelajaran penting dari sejarah ini adalah bagaimana kita menyikapi keterpurukan. Simbol perjalanan Isra Miraj menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Salat yang kita jalankan hari ini adalah jembatan untuk mencapai kekuatan mental tersebut.

Berbeda dengan ibadah lain seperti puasa, zakat, atau haji yang disampaikan melalui perantara malaikat Jibril, perintah salat diterima langsung Nabi Muhammad dari Allah Swt. Hal ini menandakan keistimewaan salat sebagai sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Sang Pencipta.

Ustaz Rahmatullah menekankan, salat yang benar akan membekas pada karakter manusia. "Karakter tersebut mencakup keseimbangan antara hubungan kepada Tuhan (hablum minallah) dan hubungan kepada sesama manusia serta alam semesta (hablum minannas)", katanya.

Sebagai penutup tausiyah, Ustaz Rahmatullah mengajak umat Islam untuk mengamalkan doa para ulama terdahulu agar diberkahi hingga sampai ke bulan Ramadan. Dengan memperbaiki kualitas salat, diharapkan dapat menjemput kedamaian batin, sebagaimana Nabi mendapatkan kekuatan setelah peristiwa Isra Miraj.

"Semoga salat bukan sekadar penggugur kewajiban, melainkan kebutuhan spiritual yang mendalam", ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....