Memahami Ikhtiar dan Takdir dalam Kehidupan Muslim

  • 22 Des 2025 12:04 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Ikhtiar dan takdir kerap dipahami sebagai dua hal yang saling bertentangan dalam menjalani kehidupan. Di satu sisi manusia dituntut untuk bekerja keras dan berusaha, sementara di sisi lain ada keyakinan bahwa seluruh perjalanan hidup telah ditentukan oleh Allah SWT. Tema inilah yang menjadi topik bahasan dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Samarinda, Minggu (21/12/2025), yang menghadirkan Ustaz Suwoko, dari Muhammadiyah Samarinda sebagai narasumber.

Dalam tausiahnya, Ustaz Suwoko menegaskan, Islam tidak pernah memisahkan ikhtiar dari takdir. Rezeki, menurutnya, bukan semata-mata hasil kerja keras manusia, tetapi juga bagian dari ketetapan Allah yang sarat hikmah. Kelapangan maupun kesempitan hidup tidak dapat dijadikan tolok ukur kemuliaan seseorang, melainkan ujian untuk menumbuhkan kesabaran, kejujuran, dan ketakwaan.

“Islam memandang rezeki sebagai kombinasi antara ikhtiar manusia dan ketentuan ilahi yang tidak mungkin dipisahkan,” ujar Ustaz Suwoko. Ia menekankan, menyederhanakan kemiskinan sebagai akibat kemalasan adalah pandangan yang keliru dan tidak mencerminkan keluasan ajaran Islam.

Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 30 yang menyebutkan bahwa Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Ayat tersebut, kata dia, menegaskan bahwa kaya dan miskin bukan tanda kemuliaan atau kehinaan, melainkan bentuk pendidikan ruhani bagi setiap hamba.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tawakal tidak berarti berpangku tangan tanpa usaha. Rasulullah SAW mencontohkan tawakal melalui perumpamaan burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dengan perut kenyang. Burung tetap bergerak dan berusaha, namun hatinya berserah sepenuhnya kepada Allah.

“Kaya itu bukanlah banyaknya harta, tetapi kaya adalah kaya hati,” kata Ustaz Suwoko mengutip hadis Rasulullah SAW. Ia menegaskan, kekayaan sejati terletak pada rasa cukup dan ketenangan batin, bukan pada akumulasi materi yang berlebihan.

Dalam sesi interaktif, pembahasan juga menyentuh realitas sosial di mana masyarakat kerap lebih menghormati orang yang kaya harta dibandingkan mereka yang kaya hati. Menurutnya, hal tersebut merupakan fenomena manusiawi, namun Islam mengajarkan agar setiap manusia dihormati tanpa memandang kondisi ekonominya.

Pertanyaan lain mengemuka terkait fenomena karier yang menanjak namun usia yang pendek. Menanggapi hal itu, Ustaz Suwoko menyampaikan usia adalah ketetapan Allah yang tidak dapat diukur dengan keberhasilan duniawi. Ia mengingatkan pentingnya menjaga amanah tubuh, memperhatikan keseimbangan antara kerja dan istirahat, serta memenuhi kebutuhan fisik dengan cara yang halal dan baik.

Menutup tausiahnya, Ustaz Suwoko mengajak umat Islam untuk memandang kehidupan dunia secara proporsional. Rezeki adalah amanah, kemiskinan bukan aib, dan kelapangan bukan jaminan kemuliaan.

“Hidup bukan arena untuk saling merendahkan, melainkan ladang amal untuk menanam kebaikan,” ujarnya, seraya mengajak umat agar senantiasa bersyukur dalam kelapangan, sabar dalam kesempitan, dan teguh dalam ikhtiar serta tawakal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....