Sepuluh Penyebab Doa Tidak Dikabulkan Menurut Ulama

  • 27 Agt 2025 19:06 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Dalam kehidupan seorang muslim, doa merupakan senjata utama sekaligus bentuk penghambaan tertinggi kepada Allah SWT. Namun, tidak jarang muncul pertanyaan di benak umat: Mengapa doa saya tidak dikabulkan? atau bahkan terkesan tertolak.

Untuk menjawab kegelisahan tersebut, RRI Pro 1 Samarinda mengulasnya dalam program Mutiara Pagi, Sabtu (23/8/2025) dengan tema “Doa yang Tertolak”, bersama narasumber Ustaz Abdullah Syakir dari Kantor Kementerian Agama Kota Samarinda.

Tausiyah yang disampaikan pagi itu menggugah hati, membuka tabir penyebab tertolaknya doa, dan mengajak umat melakukan introspeksi mendalam terhadap amalan serta hubungan mereka dengan Allah SWT.

Dalam tausiyahnya, Ustaz Syakir menyampaikan, berdasarkan kisah yang dinukil dari ulama besar Ibrahim bin Adham, doa bisa tertolak karena hati manusia mati dalam sepuluh perkara, yaitu:

Mengaku mengenal Allah, tetapi tidak menjalankan perintah-Nya. Banyak umat Islam mengakui keimanan mereka, namun lalai dalam kewajiban ibadah seperti salat, puasa, dan zakat. Bagaimana doa bisa diterima jika hak-hak Allah diabaikan?

Membaca Al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya. Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup, tetapi banyak yang hanya membaca tanpa merenungi, memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Mengaku setan adalah musuh, tetapi justru mengikuti bisikannya. Umat sering terjebak dalam sifat tercela seperti riya, sombong, dan dengki. Mereka tunduk pada hawa nafsu yang sejatinya adalah jalan setan, bukan jalan Allah.

Mengaku umat Nabi Muhammad SAW, tetapi meninggalkan sunah beliau. Kecintaan kepada Nabi seharusnya dibuktikan dengan mengikuti ajaran dan sunahnya, bukan hanya dalam ucapan atau perayaan seremonial.

Ingin masuk surga, tetapi tidak beramal. Surga tidak datang dengan keinginan semata, melainkan harus dibayar dengan amal saleh dan keikhlasan dalam ibadah.

Takut neraka, tetapi justru berbuat maksiat. Banyak orang mengaku takut neraka, tetapi gemar melakukan perbuatan yang mengantarkan ke sana.

Meyakini kematian itu nyata, tetapi tidak mempersiapkan bekal. Kematian adalah kepastian, namun manusia sering menunda tobat dan lalai memperbanyak amal kebaikan.

Makan dari nikmat Allah, tetapi tidak bersyukur. Nikmat yang seharusnya menjadi energi untuk beribadah justru digunakan untuk bermaksiat. Syukur sejati adalah menggunakan nikmat Allah untuk taat kepada-Nya.

Sibuk mencari aib orang lain, lupa pada aib sendiri. Umat terlalu fokus mengkritik dan mempermalukan sesama, padahal mereka sendiri menyimpan banyak kekurangan.

Menyaksikan kematian orang lain, tetapi tidak mengambil pelajaran. Prosesi pemakaman seharusnya menyadarkan bahwa kematian bisa datang kapan saja, namun banyak yang tetap lalai dan tidak menjadikannya pengingat.

Ustaz Abdullah Syakir mengajak pendengar menjadikan tausiyah ini sebagai bahan muhasabah (introspeksi) diri. Doa bukan sekadar permintaan, tetapi juga cermin kondisi ruhani kita. Agar doa diterima, bukan hanya lisannya yang tulus, tetapi hati dan amal harus selaras dengan ajaran agama.

“Semoga kita termasuk golongan yang doanya tidak tertolak, karena memperbaiki niat, amal, dan akhlak kepada Allah SWT serta sesama manusia,” katanya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....