Proses Penanaman Tembuni Suku Banjar
- 16 Feb 2025 08:33 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Upacara penanaman tembuni adalah upacara yang berkaitan dengan kelahiran anak di suku Banjar, Kalimantan Selatan. Upacara ini bertujuan menjaga hubungan antara bayi dan ari-ari yang dipercaya sebagai saudara si bayi.
“Kepercayaan orang bahari tembuni ini adalah kembarannya si bayi, jadi kata orang tua Acil dulu selama 40 hari setelah melahirkan tembuni ini masih menyatu dengan bayi”, sebut Acil Ewwi pengisi Acara Pesona Antar Komunitas Banjar RRI Pro 4 Samarinda, Jum’at (7/2/2025).
Membersihkan tembuni atau ari-ari juga harus memperhatikan cara yang benar, agar tembuni itu bersih. “Dulu yang membersihkan ari-ari anak Acil adenya Abah, jadi orang tua bahari itu punya caranya membersihkan sendiri, pertama di cuci ari-ari sampai bersih, terus ada bacaannya juga, dulu Acil sempat liat juga ari –arinya dikasih kapur sirih, garam, kunyit terus nanti diikat”, jelas Acil Ewwi.
Acil Ewwi melanjutkan biasanya orang tua dulu itu saat membersihkan ari-ari bisa melihat juga bakal calon anak berikutnya ini ada berapa, dilihat dari sambungan ari-ari itu ada bulatan putih biasanya, terus nanti diikat agar jarak anak berikutnya tidak dekat.
Dalam proses penanaman tembuni ini juga membutuhkan beberapa perlengkapan yang harus disiapkan, seperti upiah pinang (pelepah pinang) untuk membungkus ari-ari, kapit (wadah tembikar yang bentuknya menyerupai pot bunga kecil) untuk menyimpan ari-ari, sembilu untuk memotong tali pusat (ari-ari), sarung kain batik untuk membersihkan tubuh bayi.
“Jadi orang tua bahari tembuni juga bisa dikasih kain putih atau kuning, nanti juga dimasukkan ke dalam kendi, selain itu orang tua dulu suka masukkan kertas kosong atau pensil, katanya biar anaknya nanti pintar nulis dan baca, tapi gak tau kalau sekarang masih ada gak”, sebut Acil Mila yang juga pengisi Pesona Antar Komunitas Banjar.
Acil Ewwi melanjutkan selain itu orang dulu juga kadang masukkan ponpon biar nanti anaknya pinter masak, ada juga bedak biar anaknya pintar bedandan, macam-macam lah orang tua dulu itu, tapi apa pun yang dilakukan orang tua dulu pasti harapannya demi kebaikan anaknya kelak.
Dalam masyarakat Banjar terdapat juga kepercayaan bahwa tembuni yang ditanam di bawah pohon besar, kelak bayi yang bersangkutan akan menjadi orang besar. lalu Jika ditanam di bawah tanaman berbunga, diharapkan namanya akan harum seperti bunga tersebut, bahkan jika tembuni yang dihanyutkan di sungai, diharapkan kelak anak tersebut akan menjadi seorang pelaut. Semua bergantung dari harapan orangtua terhadap anaknya di kemudian hari.
“Selain itu setelah dikubur di dalam tanah di tutup sama ember, nanti juga dikasih lampu, jadi setiap sebelum senja itu lampu harus dinyalakan, katanya biar si ari-ari ini gak kegelapan sama agar si bayi tenang tidak ada yang menggangu, karena bayi ini harum jadi makhluk kasat mata itu suka dekati”, kata Acil Mila.
Proses penanaman tembuni (ari-ari) tidak boleh sembarangan dilakukan, harus sesuai aturannya agar tembuni ini tidak diganggu makhluk halus atau hewan pemangasa, apalagi tembuni dipercaya sebagai saudara si bayi. “Biasanya juga bayi akan diberi benda tajam disekitarnya seperti peniti yang dipakai ibu saat hamil, ada juga buku yasin di bantal bayi, dan masih banyak lagi, tujuannya hanya untuk melindungi si bayi dari gangguan makhluk halus”, kata Acil Mila.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....