Tradisi Weton Dalam Pernikahan Adat Suku Jawa
- 17 Jan 2025 16:56 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Pernikahan menjadi momen sakral antara laki-laki dan perempuan, yang mana diantara mereka sudah merasa cocok dan ingin melanjutkan hubungan yang lebih serius. Dalam hal pernikahan setiap suku yang ada di Indonesia punya tradisinya masing-masing, seperti pernikahan adat suku Jawa.
“Proses pernikahan adat jawa itu panjang, mulai dari kedua calon mempelai saling kenal, ketika sudah merasa cocok maka selanjutnya kedua orang tua bertemu untuk membicarakan agenda yang akan ditetapkan”, sebut Mbah Sapar pengisi acara Pesona Antar Komunitas Jawa Pro 4 RRI Samarinda.
Biasanya calon mempelai pria bersama keluarganya datang untuk membicarakan hari untuk pernikahan, untuk mencari hari sendiri itu butuh proses. “Cari hari itu harus mencocokkan hari lahir dari calon pengantin, apakah wetonnya cocok atau tidak, kalau tidak cocok biasanya orang dulu itu tidak melanjutkan proses ini, karena orang jawa dulu itu masih percaya dengan tradisi ini”, kata Mbah Sapar.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), weton diartikan sebagai hari lahir seseorang dengan pasaran Jawanya, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Sedangkan secara garis besar arti weton adalah gabungan, penyatuan, atau penjumlahan antara tujuh hari dalam seminggu dan lima hari pasaran saat bayi dilahirkan ke dunia.
“Ada juga weton kedua calon pengantin tidak cocok, tapi mereka itu sudah saling cinta, biasanya itu ada syarat-syarat tertentu untuk dijalankan”, ujar Mbah Sapar.
Apabila masyarakat Jawa melaksanakan pernikahan pada hari yang tidak baik, maka dipercaya akan mengundang reaksi ataupun energi negatif dari lingkungan. Dan, secara tidak disengaja dapat mendatangkan nasib buruk bagi pasangan tersebut. “Orang Jawa juga percaya kalau misalnya tidak cocok wetonnya, tidak mendapatkan hari yang baik, kedepannya itu hubungannya akan terjadi sesuatu yang tidak baik”, ucap Mbah Sapar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....