Mensyukuri Anugerah Allah; Membedakan Antara Nikmat dan Rezeki
- 18 Des 2024 13:17 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Dalam Qur’an Surat An-Nahl, ayat 71, Allah berfimran: Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?.
Inilah yang menjadi fokus sajian tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Iskandar, MA dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda (UINSI) Samarinda, dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Samarinda, Rabu (18/12/2024).
Melalui tema “Mensyukuri Anugerah Allah; Membedakan Antara Nikmat dan Rezeki”, Ustadz Iskandar menyampaikan bahwa, rezeki pada setiap orang itu bervariasi dan satu sama lain ada yang dilebihkan ada yang kurang.
“Satu sama lain di antara setiap manusia itu mendapatkan rezeki yang berbeda. Sebagaimana Allah katakan, rezeki adalah sesuatu yang Allah berikan. Pemberian Allah yang bersifat material terutama dalam soal makanan, minuman, pakaian atau sandang, pangan dan papan.” Ujar Ustadz Iskandar.
Konotasi makna rezeki dalam hal ini menurutnya lebih kepada yang sifatnya material. Berbeda dengan nikmat sebagai pemberian Allah, lebih kepada tidak sekedar material, tapi pemberian Allah itu juga bersifat Non material.
“Kalau yang sifatnya material adalah makan, minum, pakaian, tapi nikmat lebih luas ketimbang rezeki, sebagai pemberian Allah yang tidak sekedar material atau non material,” Ungkapnya.
Lebih lanjut Ustadz Iskandar menjelaskan, jika kita mengikuti pendapat Imam Ar-Razi dalam tafsir Mafatihul Ghaib, ada beberapa pemberian Allah yang dikategorikan dalam kategori besar, yaitu yang pertama ada yang disebut dengan pemberian yang sifatnya duniawi yang oleh Ar-Razi disebut dengan nikmat duniawi dan Kedua nikmat Diniyah atau Nikmat Keagamaan.
Dalam soal pemberian Allah terkait dengan kenikmatan dunia, kenikmatan yang sifatnya hisiyah dan jasadiyah. Kenikmatan atau pemberian Allah terkait dengan fisik, jasmani atau kebutuhan jasmani ragawi, seperti makan minum.
Ustadz Iskandar juga menyampaikan bahwa, nikmat yang paling besar dalam diri seseorang adalah nikmat diniyah atau nikmat keagamaan, yaitu Nikmat Iman (iman seseorang kepada sang pencipta).
Selain Iman, nikmat diniah terbesar kedua adalah Amal kebaikan. Bahwa orang merasakankenikmatan ketika bisa melakukan kebajikan, bisa memberikan zakat, berpuasa dan menunaikan ibadah haji. Iman dan amal adalah rangkaian kata-kata yang tidak terpisahkan, sehingga orang hidup hanya dengan iman atau hanya dengan amal saja tidaklah cukup.
Mensyukuri anugerah Allah, baik yang berupa rezeki maupun nikmat, adalah kewajiban setiap Muslim. Dengan memahami perbedaan antara keduanya, kita akan lebih mampu untuk menghargai setiap karunia yang diberikan-Nya. Syukur yang tulus akan membawa kita kepada kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga kita selalu diberi hati yang bersyukur dan kemampuan untuk memanfaatkan setiap rezeki dan nikmat yang Allah karuniakan dengan sebaik-baiknya.
Ustadz Dr. Iskandar mengingatkan kita untuk senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan, karena sesungguhnya, nikmat terbesar adalah kemampuan kita untuk mensyukuri segala yang ada, dan itulah yang akan mendatangkan keberkahan dalam hidup kita. Semoga kita semua selalu menjadi hamba yang bersyukur. Aamiin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....