Tubuh Tinggal Tulang, Kisah Mauliyan Induk Orangutan di Kaltim yang Sempat Viral

  • 31 Mei 2026 16:30 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Kutai Timur - Sebuah video yang memperlihatkan seekor induk orangutan berjalan tertatih sambil menggendong bayinya kembali beredar luas di media sosial pada 2026. Rekaman berdurasi singkat itu menyita perhatian publik karena memperlihatkan kondisi satwa yang sangat memprihatinkan di tengah bentang alam yang telah berubah menjadi kawasan tambang.

Dalam video tersebut, induk orangutan tampak menyeberangi jalan tambang dengan tubuh kurus dan tulang-tulang yang terlihat jelas. Di pelukannya, seekor bayi orangutan terus menempel saat keduanya berjalan perlahan mencari jalan keluar dari habitat yang semakin menyempit.

Namun, banyak yang tidak mengetahui bahwa video itu sebenarnya direkam pada September 2023. Saat itu, induk orangutan yang kemudian diberi nama Mauliyan bersama bayinya, Ariandi, ditemukan di kawasan perbatasan konsesi tambang PT Ganda Alam Makmur dan PT Indexim, Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur.

Mauliyan diperkirakan berusia sekitar 17 tahun, sedangkan Ariandi masih berumur tiga tahun. Tim asesmen yang melakukan pemeriksaan menemukan kondisi induk orangutan tersebut mengalami malnutrisi berat dan dehidrasi akibat minimnya sumber pakan di habitatnya.

Tak lama setelah video pertama kali viral, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama sejumlah mitra konservasi melakukan penelusuran di lokasi. Upaya itu berujung pada ditemukannya kedua individu orangutan tersebut di kawasan yang telah mengalami perubahan lanskap secara masif.

Berdasarkan penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA), lokasi penemuan Mauliyan dan Ariandi berada di bentang alam Karaitan, salah satu kawasan penting meta populasi orangutan di Kalimantan Timur yang mencakup wilayah Bengalon, Kaubun, dan Kaliorang.

Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan itu mengalami tekanan akibat ekspansi berbagai aktivitas industri, mulai dari pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit hingga hutan tanaman industri. Kondisi tersebut menyebabkan habitat orangutan terpecah menjadi petak-petak hutan kecil yang terisolasi dan tidak lagi saling terhubung.

"Habitat orangutan terus terfragmentasi, menyisakan sedikit hutan yang membentuk seperti pulau-pulau kecil yang tidak saling terhubung. Di situlah orangutan bertahan hidup," ucap JPA dalam hasil penelusurannya.

PT Ganda Alam Makmur diketahui memiliki konsesi tambang sekitar 10.600 hektare, sementara PT Indexim mengelola area tambang seluas kurang lebih 25 ribu hektare di kawasan tersebut.

Pada 25 September 2023, tim penyelamat akhirnya mengevakuasi Mauliyan dan Ariandi untuk mendapatkan penanganan medis. Kisah keduanya kemudian menjadi salah satu potret nyata tekanan yang dihadapi orangutan Kalimantan ketika habitat alaminya terus menyusut akibat perubahan bentang alam.

Kembalinya video itu ke ruang publik pada 2026 tidak hanya membangkitkan simpati, tetapi juga mengingatkan bahwa konflik antara satwa liar dan aktivitas manusia masih menjadi tantangan besar bagi upaya konservasi orangutan di Kalimantan Timur.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....