Agama di Kepala Harus Turun ke Hati dan Membentuk Akhlak
- 12 Agt 2026 08:28 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja memiliki pengetahuan agama yang luas, mampu menghafal banyak ayat dan hadis, serta memahami berbagai hukum Islam. Namun, pengetahuan tersebut belum tentu tercermin dalam sikap dan perilakunya. Inilah yang disampaikan dalam tausiyah Mutiara Pagi Pro 1 RRI Samarinda bersama Ustaz Mustamin Fattah, dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda (UINSI Samarinda), dengan tema “Agama di Kepala dan Agama di Hati”.
Mengawali tausiyahnya, Ustaz Mustamin menggunakan ilustrasi sederhana tentang madu. Ia menggambarkan dua orang yang sama-sama mengetahui madu. Orang pertama merupakan ahli kimia yang mampu menjelaskan kandungan, komposisi, proses pembentukan, hingga manfaat madu secara ilmiah. Sementara orang kedua tidak memahami teori tentang madu, tetapi pernah mencicipinya sehingga ketika ditanya tentang rasanya, ia hanya mampu menjawab bahwa madu itu manis.
Menurut Ustaz Mustamin, kedua orang tersebut sama-sama memiliki pengetahuan tentang madu, tetapi kualitas pengetahuannya berbeda. Perumpamaan itu kemudian dikaitkan dengan kehidupan beragama. Seseorang dapat menguasai banyak dalil, ayat, hadis, fikih, bahkan memahami perbedaan pendapat ulama, tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah apakah ilmu tersebut telah dirasakan dan mengubah hati.
“Agama di kepala itu membuat kita mengetahui Allah. Tapi agama di hati membuat kita mengenal Allah, atau yang disebut dengan ma’rifatullah.” ujar Ustaz Mustamin dalam tausyiahnya.
Ia menegaskan, agama di kepala bukan sesuatu yang buruk. Sebaliknya, ilmu merupakan bagian penting dalam Islam dan menjadi pintu untuk membangun keimanan. Namun, ilmu tidak seharusnya berhenti sebagai informasi.
Menurutnya, tujuan pendidikan Islam bukan sekadar memperbanyak pengetahuan tentang Allah, melainkan mengantarkan seseorang untuk benar-benar mengenal Allah. Pengenalan tersebut diharapkan melahirkan kecintaan, rasa takut kepada Allah (khasyah), harapan, ketenangan, serta akhlak yang mulia. Karena itu, ukuran keberhasilan seseorang dalam belajar agama tidak hanya dilihat dari seberapa banyak dalil yang mampu ia hafalkan, tetapi sejauh mana ilmu tersebut memengaruhi perilakunya.
Ustaz Mustamin juga mengajak pendengar untuk melihat kembali pengalaman mereka ketika beribadah. Ketika membaca Al-Qur’an, misalnya, seseorang tidak cukup hanya menikmati keindahan suara pembacanya, tetapi perlu berusaha memahami maknanya hingga mampu menyentuh hati. Demikian pula ketika melaksanakan salat dan berdoa, seorang Muslim perlu menghadirkan kesadaran bahwa dirinya sedang menghadap dan bergantung kepada Allah.
Dalam tausiyah tersebut, ia memperkenalkan perbedaan antara religious knowledge atau pengetahuan agama dan religious experience atau pengalaman beragama. Pengetahuan agama membuat seseorang mengetahui hukum, dalil, sejarah, dan berbagai informasi keislaman. Sementara pengalaman beragama terjadi ketika ajaran tersebut benar-benar dijalankan dan dirasakan dalam kehidupan, seperti merasakan ketenangan ketika beristigfar, merasakan pertolongan Allah, serta mampu bertawakal ketika menghadapi persoalan.
Pembahasan kemudian diarahkan pada tingkatan keyakinan yang digambarkan melalui ilmu yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin. Ilmu yaqin merupakan keyakinan berdasarkan informasi yang diterima, ainul yaqin lahir dari apa yang disaksikan, sedangkan haqqul yaqin merupakan keyakinan yang telah menjadi pengalaman. Dalam konteks agama, puncaknya adalah ketika seseorang tidak hanya mengetahui ajaran Allah, tetapi mengalami dan menghayatinya sehingga melahirkan perubahan dalam kehidupan.
Keterhubungan antara ilmu dan akhlak juga menjadi perhatian dalam sesi tanya jawab. Menanggapi pertanyaan mengenai korupsi, Ustaz Mustamin menjelaskan bahwa tindakan koruptif tidak selalu dilakukan oleh orang yang kekurangan pengetahuan atau harta. Menurutnya, persoalan muncul ketika ilmu tidak turun ke hati dan tidak membentuk integritas. Seseorang bisa mengetahui bahwa korupsi adalah perbuatan yang salah, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu mampu mencegahnya jika tidak disertai ketundukan dan penghayatan terhadap nilai agama.
Ia juga mengingatkan pentingnya tazkiyatun nafs, keteladanan, pembiasaan beramal, serta lingkungan yang baik dalam proses membentuk pribadi. Sikap qanaah, bersyukur, dan tidak mudah tergoda oleh kemewahan orang lain dinilai penting untuk menjaga seseorang dari perilaku curang.
“Pertanyaan yang lebih penting itu sebenarnya adalah berapa banyak ilmu yang telah mengubah hati kita.” ucap Ustaz Mustamin di akhir tausiyahnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....