Safar Berkah bagi yang Taat, Sial bagi yang Maksiat
- 05 Agt 2026 07:02 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Bulan Safar kerap dikaitkan dengan berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat, mulai dari bulan yang dianggap membawa kesialan hingga waktu yang dihindari untuk memulai aktivitas penting. Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada satu pun dalil yang menyatakan bahwa bulan Safar identik dengan kesialan. Justru keberkahan atau kesulitan yang dialami seseorang bergantung pada kualitas keimanan dan amal perbuatannya kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Ustaz Alfiannor, S.H.I., dari Kantor Kementerian Agama Kota Samarinda dalam tausiyah Mutiara Pagi Pro 1 RRI Samarinda yang mengangkat tema "Safar Berkah Bagi Yang Taat, Sial Bagi Yang Maksiat." Menurutnya, Islam mengajarkan bahwa seluruh waktu yang diciptakan Allah SWT adalah baik dan tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat ataupun mudarat tanpa izin-Nya.
Dalam tausiyahnya, Ustaz Alfiannor menjelaskan bahwa keyakinan terhadap kesialan bulan Safar merupakan warisan tradisi jahiliah yang telah diluruskan oleh Rasulullah SAW. Seorang muslim tidak diperkenankan mempercayai mitos yang bertentangan dengan akidah, sebab segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan berada dalam ketetapan dan kehendak Allah SWT.
"Bulan Safar bukanlah bulan pembawa sial. Yang mendatangkan keberkahan adalah ketaatan kepada Allah, sedangkan yang menghadirkan kesempitan hidup adalah kemaksiatan yang dilakukan manusia sendiri," ujar Ustaz Alfiannor.
Ia menegaskan bahwa keberkahan hidup tidak ditentukan oleh pergantian bulan atau waktu tertentu, melainkan oleh kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Semakin seseorang meningkatkan ibadah, memperbanyak amal saleh, serta menjauhi larangan-Nya, maka semakin besar pula keberkahan yang akan dirasakan dalam kehidupan.
Sebaliknya, apabila seseorang terus menerus melakukan maksiat, mengabaikan perintah Allah, dan memperturutkan hawa nafsu, maka berbagai persoalan yang muncul dalam hidupnya sering kali merupakan akibat dari perbuatannya sendiri. Karena itu, menyalahkan bulan Safar atas musibah yang terjadi bukanlah sikap yang sesuai dengan ajaran Islam.
Ustaz Alfiannor juga mengajak umat Islam menjadikan bulan Safar sebagai momentum memperbanyak istigfar, memperbaiki kualitas salat, mempererat silaturahmi, meningkatkan sedekah, serta memperbanyak membaca Al-Qur'an. Menurutnya, setiap bulan merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri dan menambah bekal amal menuju ridha Allah SWT.
Ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk selalu bertawakal kepada Allah setelah berikhtiar. Seorang muslim tidak boleh diliputi rasa takut terhadap mitos maupun ramalan yang tidak memiliki dasar syariat, karena keyakinan semacam itu dapat mengurangi kesempurnaan tauhid.
"Jika seseorang hidup dalam ketaatan, maka setiap waktu akan menjadi berkah baginya. Namun jika hidup dipenuhi kemaksiatan, maka bukan Safar yang membawa kesialan, melainkan dosa-dosa yang dilakukan sendiri," ucapnya.
Lebih lanjut, ia berharap masyarakat semakin memahami ajaran Islam secara utuh sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berbagai kepercayaan yang bertentangan dengan akidah. Edukasi keagamaan yang benar dinilai penting untuk membangun keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang menentukan segala ketetapan dalam kehidupan manusia.
Melalui tausiyah tersebut, pendengar diajak memaknai bulan Safar sebagai waktu untuk memperkuat keimanan, memperbanyak amal kebajikan, serta meninggalkan berbagai bentuk kemaksiatan. Dengan demikian, setiap bulan akan menjadi kesempatan meraih keberkahan, sementara rasa takut terhadap kesialan dapat digantikan dengan keyakinan, optimisme, dan tawakal kepada Allah SWT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....