Hari Raya Nyepi Tak Hanya Dirayakan di Bali, Ini Perbedaan Tradisinya

  • 29 Jul 2026 14:38 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Perayaan Tahun Baru Saka atau Hari Raya Nyepi tidak hanya dirayakan oleh umat Hindu di Bali, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia hingga India. Meski memiliki tujuan yang sama sebagai momentum pergantian tahun, setiap wilayah memiliki cara perayaan yang berbeda karena dipengaruhi oleh budaya dan aturan adat setempat.

Pemuka Agama Hindu, I Putu Suberata, menjelaskan umat Hindu di India maupun Indonesia sama-sama merayakan pergantian tahun dengan penuh suka cita. Berbagai kegiatan seperti pawai, berkumpul bersama keluarga, hingga silaturahmi menjadi bagian dari perayaan tersebut.

"Untuk tahun baru, baik di India maupun Indonesia sama-sama dirayakan oleh umat Hindu. Suasananya penuh sukacita, ada pawai, mengunjungi sanak keluarga, dan berbagai kegiatan kebersamaan," ujar I Putu Suberata.

Meski demikian, penyebaran agama Hindu di Indonesia tidak menghapus budaya lokal yang telah berkembang sebelumnya. Menurutnya, ajaran Hindu mampu beradaptasi dengan budaya di setiap daerah tanpa menghilangkan nilai-nilai utama yang menjadi inti ajaran agama.

"Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia, budaya yang sudah ada tidak dihilangkan. Nilai-nilai utama ajaran Hindu tetap dipertahankan, tetapi pelaksanaannya menyesuaikan dengan budaya masyarakat setempat," katanya.

Di Bali, Hari Raya Nyepi lebih dikenal sebagai momentum introspeksi diri, penyucian jiwa, penyelarasan hubungan dengan sesama manusia, serta menjaga keharmonisan dengan alam semesta. Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui meditasi, pengendalian diri, dan pembatasan berbagai aktivitas selama Nyepi berlangsung.

Menurut I Putu Suberata, perbedaan pelaksanaan Nyepi di berbagai daerah sering kali menimbulkan anggapan bahwa hanya Bali yang merayakannya. Padahal, umat Hindu di berbagai wilayah Indonesia seperti Lombok, kawasan transmigrasi, hingga Kalimantan juga memperingati Hari Raya Nyepi dengan cara yang menyesuaikan kondisi daerah masing-masing.

"Indonesia memiliki budaya yang berbeda-beda. Di Bali ada awig-awig atau aturan adat yang mengatur pelaksanaan Nyepi. Di daerah lain, perayaannya tetap ada, hanya saja menyesuaikan aturan daerah setempat. Jadi bukan berarti hanya Bali yang merayakan Nyepi," ucapnya.

Ia menambahkan, di Samarinda sendiri pelaksanaan Nyepi juga mengikuti tradisi yang berkembang di Bali karena sebagian besar umat Hindu yang tinggal di daerah tersebut berasal dari Pulau Dewata. Namun, pelaksanaan tetap disesuaikan dengan kondisi sosial dan aturan yang berlaku di daerah.

Menjelang Hari Raya Nyepi, umat Hindu juga melaksanakan rangkaian upacara penyucian yang dikenal dengan Melasti. Dalam ritual tersebut, berbagai pratima atau simbol-simbol suci dari rumah maupun pura dibawa menuju sumber air seperti laut atau tempat yang telah ditentukan untuk disucikan sebagai simbol pembersihan diri dan alam semesta.

"Pada saat Melasti, alat-alat suci dari rumah maupun pura dibawa untuk disucikan. Kami juga melakukan simbol pembersihan alam dengan mengambil tanah dari lingkungan sekitar, membawa sesajen atau banten, lalu memohon air suci atau tirta amerta sebagai lambang penyucian diri dan alam," ujar I Putu Suberata.

Di Samarinda, prosesi Melasti dipusatkan di kawasan Teras Samarinda sebagai lokasi pelaksanaan ritual bersama umat Hindu. Melalui prosesi tersebut, umat Hindu berharap dapat membersihkan diri dari segala hal negatif, menjaga keharmonisan dengan sesama, serta merawat keseimbangan antara manusia dan alam sebagai makna utama dari perayaan Hari Raya Nyepi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....