Ustaz Khozin: Bulan Safar Penuh Kebaikan, Bukan Kesialan
- 23 Jul 2026 18:43 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Bulan Safar kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan anggapan sebagai bulan pembawa kesialan. Keyakinan tersebut masih hidup di sebagian masyarakat sehingga tidak sedikit yang menghindari menggelar pernikahan, memulai usaha, hingga bepergian pada bulan ini. Namun, Islam justru mengajarkan bahwa seluruh waktu yang diciptakan Allah SWT adalah baik dan tidak memiliki kekuatan membawa keberuntungan maupun kesialan.
Hal itu menjadi topik dalam program tausiyah "Mutiara Pagi" Pro 1 RRI Samarinda yang mengangkat tema "Bulan Safar Penuh Kebaikan Bukan Kesialan" bersama narasumber Ustaz KH. Muhammad Khozin, M.Pd. Dalam tausiyah tersebut, masyarakat diajak meluruskan pemahaman mengenai Bulan Safar berdasarkan Al-Qur'an, hadis, serta sejarah Islam.
Menurut Ustaz KH. Muhammad Khozin, Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Secara bahasa, kata Safar berarti "kosong", merujuk pada kebiasaan masyarakat Arab dahulu yang meninggalkan kampung halaman untuk bepergian atau berperang sehingga wilayah mereka menjadi kosong.
Ia menjelaskan bahwa pada masa jahiliah berkembang keyakinan bahwa Bulan Safar merupakan bulan sial. Anggapan tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun hingga masih ditemukan dalam kehidupan masyarakat modern dalam berbagai bentuk tahayul, seperti menghindari kegiatan penting pada waktu tertentu karena dianggap membawa nasib buruk.
"Para ulama bahkan menyebut Bulan Safar sebagai Safarul Khair, yakni bulan yang penuh kebaikan. Islam tidak mengenal adanya bulan yang membawa kesialan, sebab semua yang terjadi berlangsung atas izin dan ketentuan Allah SWT, bukan karena waktu atau bulannya," ujar Ustaz KH. Muhammad Khozin.
Dalam tausiyahnya, ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menolak berbagai bentuk keyakinan jahiliah, termasuk anggapan sial terhadap Bulan Safar. Nabi Muhammad SAW juga memberikan teladan dengan melaksanakan berbagai peristiwa penting pada Bulan Safar, mulai dari perjalanan hijrah, pernikahan, hingga berbagai aktivitas strategis lainnya sebagai bukti bahwa bulan tersebut tidak berbeda dengan bulan-bulan lainnya.
Sesi interaktif bersama pendengar turut memperkaya pembahasan. Sejumlah penelepon mengangkat persoalan yang masih berkembang di tengah masyarakat, mulai dari mitos burung tertentu sebagai pertanda datangnya tamu atau musibah, kepercayaan terhadap kucing yang tertabrak kendaraan, hingga simbol burung merpati sebagai lambang perdamaian. Seluruh pertanyaan dijawab dengan pendekatan keislaman sekaligus menghargai keberadaan budaya sebagai warisan tradisi yang tidak boleh dijadikan dasar keyakinan.
Ustaz KH. Muhammad Khozin menegaskan bahwa Islam membedakan antara budaya dengan akidah. Tradisi lokal boleh dipelajari sebagai bagian dari sejarah dan budaya masyarakat, namun tidak boleh diyakini memiliki kekuatan gaib yang menentukan nasib seseorang. Seorang muslim, katanya, hanya menggantungkan harapan dan ketentuan hidup kepada Allah SWT.
Selain itu, narasumber juga mengulas kandungan Surah Al-Hadid ayat 22 yang menjelaskan bahwa seluruh musibah maupun peristiwa yang terjadi di bumi telah berada dalam ketentuan Allah SWT. Ayat tersebut mengajarkan umat Islam untuk bersikap sabar, ikhlas, serta tidak larut dalam kesedihan ketika kehilangan ataupun berlebihan saat memperoleh kenikmatan.
"Yang perlu kita bangun adalah positive thinking dan tawakal kepada Allah. Semua bulan adalah kesempatan memperbanyak amal saleh. Jika kita meyakini kebaikan dan berusaha di jalan yang benar, maka Allah akan memberikan kebaikan sesuai prasangka baik hamba-Nya kepada-Nya," ucapnya.
Menutup tausiyah, Ustaz KH. Muhammad Khozin mengajak umat Islam memanfaatkan setiap waktu sebagai sarana meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat kepedulian sosial, serta menghindari berbagai bentuk tahayul yang tidak memiliki landasan dalam syariat. Baginya, keberhasilan hidup tidak ditentukan oleh waktu tertentu, melainkan oleh keimanan, ikhtiar, dan ketakwaan kepada Allah SWT. Program "Mutiara Pagi" pun menjadi pengingat bahwa Bulan Safar bukanlah bulan kesialan, melainkan momentum memperkokoh optimisme dan memperbanyak amal kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....