Mengenal Konsep Resiliensi, Jalan Rida dan Tangga Kebaikan bagi Seorang Mukmin

  • 22 Jul 2026 16:07 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Di tengah dinamika kehidupan modern yang penuh ketidakpastian, setiap individu dituntut memiliki kemampuan untuk bangkit dan bertahan menghadapi berbagai ujian atau dikenal dengan istilah resiliensi. Nilai inilah yang menjadi pembahasan dalam program Tausiyah Mutiara Pagi RRI Pro 1 Samarinda dengan tema "Resiliensi: Jalan Rida, Tangga Kebaikan" bersama narasumber Ustaz Ikhwan Saputera dari Kantor Kementerian Agama Kota Samarinda, Sabtu, 18 Juli 2026.

Dalam tausiyahnya, Ustaz Ikhwan menjelaskan resiliensi dalam Islam bukan sekadar kemampuan bangkit setelah mengalami kesulitan, melainkan kekuatan iman yang membuat seseorang tetap teguh dalam ketaatan di tengah berbagai perubahan kehidupan. Menurutnya, seorang mukmin tidak diukur dari sedikit atau banyaknya ujian yang dihadapi, tetapi dari kemampuannya menjaga hati agar tetap dekat kepada Allah SWT.

Ia mengungkapkan, kehidupan saat ini dipenuhi berbagai tantangan, mulai dari tekanan ekonomi, perkembangan teknologi yang begitu cepat, derasnya arus informasi, hingga pengaruh media sosial yang kerap memicu rasa cemas dan membandingkan diri dengan orang lain. Kondisi tersebut membuat banyak orang kehilangan ketenangan batin karena terus mengejar kepastian yang sejatinya tidak dimiliki manusia.

Menurutnya, Islam mengajarkan bahwa kepastian bukan berada di tangan manusia, melainkan sepenuhnya dalam kuasa Allah SWT. Karena itu, seorang mukmin harus membangun rasa aman melalui tawakal, bukan dengan menggantungkan hidup pada hal-hal duniawi yang sifatnya berubah-ubah. Ketika hati bergantung kepada Allah, seseorang akan lebih siap menghadapi setiap perubahan zaman.

"Resiliensi bukan sekadar kemampuan bertahan menghadapi perubahan, tetapi kemampuan menjaga hati agar tetap tenang ketika dunia kehilangan ketenangan. Dunia akan terus berubah, tetapi seorang mukmin memiliki pegangan yang tidak pernah berubah, yaitu Allah SWT," ujar Ustaz Ikhwan.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan tiga tingkatan resiliensi. Pertama adalah recovery, yaitu kemampuan kembali bangkit setelah mengalami kegagalan atau musibah. Kedua adalah coping, yakni kemampuan beradaptasi dan tetap bertumbuh meskipun hidup berdampingan dengan keterbatasan atau ujian yang tidak dapat diubah. Sedangkan tingkatan tertinggi adalah transformasi, ketika seseorang justru menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih dekat kepada Allah melalui berbagai ujian yang dihadapinya.

Sebagai contoh, Ustaz Ikhwan mengangkat kisah Nabi Yusuf AS yang mengalami berbagai cobaan, mulai dari dibuang ke dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah hingga dipenjara. Namun seluruh ujian tersebut justru menjadi jalan yang mengantarkannya menjadi pemimpin besar. Kisah tersebut menunjukkan bahwa setiap kesulitan dapat menjadi tangga menuju kemuliaan apabila dihadapi dengan kesabaran, keimanan, dan keteguhan hati.

Ia juga mengingatkan bahwa sikap rida sering kali disalahartikan sebagai kepasrahan tanpa usaha. Padahal, rida adalah menerima ketetapan Allah dengan lapang dada sembari terus berikhtiar memperbaiki keadaan. Seorang pedagang yang dagangannya sepi, misalnya, tetap harus mengevaluasi usahanya, meningkatkan pelayanan, dan terus berdoa tanpa menyalahkan takdir.

Dalam sesi dialog interaktif, Ustaz Ikhwan turut menjawab pertanyaan pendengar mengenai bagaimana seseorang dapat tetap produktif sekaligus memiliki sikap rida kepada Allah. Menurutnya, indikator utama bukan terletak pada pengakuan seseorang, melainkan pada amal nyata yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan semangat memperbaiki diri.

"Rida bukan berarti menyerah. Rida adalah menerima ketetapan Allah tanpa kehilangan semangat untuk berusaha. Kita boleh kehilangan harta, jabatan, atau kedudukan, tetapi jangan sampai kehilangan Allah sebagai tempat bergantung," ucapnya.

Di akhir tausiyahnya, Ustaz Ikhwan mengajak masyarakat untuk membangun ketangguhan spiritual di tengah perubahan zaman. Ia mengibaratkan kehidupan seperti kapal yang berada di atas air. Kapal akan tetap mengapung selama air tidak masuk ke dalamnya. Demikian pula manusia, boleh memiliki harta, jabatan, dan popularitas, namun jangan sampai semua itu menguasai hati. Sebab ketika hati hanya bergantung kepada Allah SWT, setiap ujian akan menjadi jalan menuju rida-Nya sekaligus tangga untuk meraih kebaikan yang lebih besar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....