Meditasi Bukan Mengosongkan Pikiran
- 06 Jul 2026 10:32 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda : Meditasi kerap dipahami sebagai upaya mengosongkan pikiran atau sekadar merenung dalam diam. Namun, anggapan tersebut dinilai kurang tepat. Penasehat Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (MAGABUDHI) Kalimantan Timur, P.My.Dr.Ir Surya Sila, MP., menjelaskan bahwa meditasi memiliki makna yang jauh lebih mendalam, yakni melatih pikiran agar mampu fokus pada satu objek yang dipilih.
"Menurut banyak orang meditasi itu merenung atau mengosongkan pikiran. Padahal bukan seperti itu. Kalau merenung jadinya filsuf, kalau mengosongkan pikiran malah bisa salah arah. Meditasi itu memusatkan pikiran pada satu objek yang kita pilih," ujar Surya Sila.
Ia menjelaskan, dalam ajaran Buddha terdapat dua jenis meditasi utama, yaitu samatha bhavana dan vipassana bhavana. Pada meditasi samatha, seseorang dapat memilih satu dari 40 objek meditasi sesuai karakter masing-masing. Misalnya, seseorang yang mudah marah dianjurkan memilih objek cinta kasih dengan terus mengembangkan harapan agar semua makhluk hidup berbahagia sehingga sifat kemarahan perlahan berubah menjadi kasih sayang. Hasil akhir dari meditasi ini adalah ketenangan dan kedamaian batin.
Sementara itu, meditasi vipassana bhavana berfokus pada pengamatan terhadap jasmani dan batin. Melalui latihan tersebut, seseorang memperoleh pemahaman mengenai hakikat kehidupan, termasuk proses kehidupan dan kematian yang terus berulang. Surya Sila menjelaskan bahwa setelah mengembangkan meditasi samatha, Pertapa Siddharta kemudian mengembangkan sendiri meditasi vipassana hingga akhirnya mencapai pencerahan.
Menurut Surya Sila, meditasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Buddha. Bahkan, ia menyebut meditasi sebagai jantung ajaran Buddha karena melalui latihan inilah seseorang belajar mengendalikan hawa nafsu, membangun kedamaian, serta menapaki jalan menuju Nibbana atau kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian. "Kalau jantung tidak ada, tubuh tidak bisa hidup. Begitu juga dalam agama Buddha, meditasi adalah jantungnya," katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pikiran manusia memang secara alami sulit diam. Sang Buddha mengibaratkan pikiran seperti seekor monyet yang terus melompat ke sana kemari tanpa henti. Karena itu, latihan meditasi dilakukan dengan mengarahkan perhatian, misalnya pada keluar masuknya napas. Ketika pikiran mulai mengembara, seseorang cukup menyadarinya lalu mengembalikan perhatian kepada napas secara berulang hingga akhirnya pikiran menjadi lebih terlatih.
Lebih jauh, Surya Sila menegaskan bahwa meditasi tidak hanya dilakukan saat duduk bersila dalam waktu tertentu. Latihan duduk selama 30 menit hanyalah sarana untuk membangun kebiasaan. Esensi meditasi justru diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari saat bekerja, makan, berbicara hingga menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Dengan menyadari setiap reaksi batin, seseorang dapat mengendalikan emosi sehingga tidak mudah marah atau terbawa nafsu.
Pengalaman pribadinya menjadi bukti nyata manfaat meditasi dalam kehidupan. Surya Sila mengaku pernah menjadi perokok berat dengan konsumsi hingga dua bungkus rokok setiap hari. Setelah mengikuti pelatihan meditasi selama 10 hari dan bertekad mengubah kebiasaan tersebut, ia akhirnya berhasil berhenti merokok. "Saya merasa selama ini dibodohi oleh rokok. Setelah mengikuti pelatihan meditasi dan memiliki tekad kuat, saya akhirnya bisa berhenti. Meditasi membantu kita mengelola pikiran sehingga hidup menjadi lebih tenang dan bahagia," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....