Limbah Plastik Laut Picu Gangguan Sistem Imun

  • 17 Apr 2026 10:27 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda — Sampah plastik di laut tidak hanya merusak ekosistem dan estetika pesisir, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan manusia melalui rantai konsumsi ikan.

Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Ahli Muda Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, Yuliana Nidasari, menyampaikan sampah laut yang masuk ke wilayah perairan Indonesia menjadi tanggung jawab bersama untuk ditangani. Ia menjelaskan sebagian besar sampah laut berasal dari aktivitas daratan, sementara sisanya berasal dari pembuangan langsung ke laut.

“Karena kan sampah ini kan selain ini laut ini seperti tempat penampungan sekarang ini. Karena datang dari daratan 80 persen tuh dari daratan. Sisanya itu sampah yang memang dibuang ke laut gitu,” ujarnya dalam obrolan SPADA, dikutip Jumat, 17 April 2026.

Penanganan sampah dilakukan dengan memilah jenisnya. Sampah plastik menjadi fokus utama karena sulit terurai dan berpotensi didaur ulang menjadi produk lain.

“Jadi kita lihat dulu jenis sampahnya kan. Kalau misalnya di laut ya kita pasti fokus pada sampah plastik. Jadi ini kan bisa direuse ya didaur ulang seperti sampah plastik itu kan bisa didaur ulang,” ujarnya.

Menurutnya, sebagian sampah plastik telah dimanfaatkan kembali melalui berbagai inovasi, termasuk dijadikan produk kerajinan.

Dampak paling serius muncul pada biota laut. Plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai dan berubah menjadi mikroplastik yang mudah masuk ke rantai makanan.

“Ya, jadi sampah plastik ini termasuk yang sangat sulit terurai. Perlu waktu 450 tahun terurainya. Panjang mereka makroplastik menjadi mikroplastik. Dalam proses itu tentunya kalau dia ada di laut pasti kan termakan oleh ikan-ikan maupun biota laut ya. Kadang-kadang mereka terjerat atau makan langsung mati gitu kan,” katanya.

Ia menambahkan, ikan yang mengandung mikroplastik tetap dapat tertangkap dan dikonsumsi manusia. Kandungan bahan kimia dalam plastik berisiko memicu berbagai gangguan kesehatan.

“Sedangkan plastik itu kan mengandung bahan-bahan kimia berbahaya yang menjadikan makanya sekarang banyak penyakit-penyakit seperti kanker, termasuk. Kemudian ada yang autisme, segala kita ganggu ke sistem imun tubuh ya, ternyata ya sangat berbahaya,” ujarnya.

Kondisi tersebut dinilai sulit dihindari sepenuhnya karena konsumsi ikan merupakan bagian dari kebutuhan sehari-hari. Upaya pencegahan dinilai lebih realistis melalui peningkatan kesadaran menjaga lingkungan.

“Jadi caranya ya harus kesadaran kita sendiri bagaimana kita harus menjaga lingkungan tersebut. Kita kurangi. Terus harus punya inovasi. Gimana sih caranya supaya daripada menunggu dia terurai lama, digunakan kembali jadi apa, kan lebih bermanfaat gitu,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....