KPPG Kaltim Menjawab Tantangan Gizi dan Stunting
- 16 Feb 2026 16:09 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kalimantan Timur terus menjadi solusi strategis menghadapi masalah gizi, khususnya stunting pada anak. Dalam dialog interaktif Halo kaltim bersama pendengar dari Kutai Barat, Hanyek mengutarakan tantangan di lapangan terkait distribusi MBG.
“Saya ini kan orang pedalaman, masyarakatnya tidak banyak sekolah. Nah, bagaimana makanan bergizi itu? Apakah enak karena bumbunya ada bumbunya enak,” ujar Hanyek kepada RRI. Ia juga menambahkan keluhannya terkait buah-buahan, “Kadang pisang lokal tiga hari sudah lembek, sementara pisang modern tetap keras. Hal ini memengaruhi penerimaan MBG oleh masyarakat,” katanya.
Menanggapi hal itu, Koordinator SPPG Regional Provinsi Kaltim, Binti Maulina Putri, menjelaskan, pedoman gizi seimbang menjadi acuan, bukan lagi empat sehat lima sempurna. Seimbang antara makro dan mikro, termasuk sayur dan buah, sangat penting untuk kualitas gizi. “Buah dan sayur merupakan sumber serat, vitamin, dan mineral yang sering terlewatkan dalam konsumsi masyarakat,” ujar Putri, dikutip Senin 16 Februari 2026.
Putri menambahkan, kualitas bahan makanan menjadi fokus pengawasan KPPG. “Di setiap SPPG, terdapat tiga pegawai pengawas, yaitu Kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan. Mereka mengawasi kualitas makanan termasuk buah yang diterima oleh penerima manfaat. Jika ada yang tidak sesuai, masyarakat dapat memberikan saran langsung ke SPPG,” ujarnya.
Mengenai cakupan penerima manfaat, lanjut Putri, satu SPPG melayani sekitar 3.000 orang, terdiri dari 2.500 anak sekolah dari PAUD sampai SMA, termasuk SLB, dan 500 ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Lansia saat ini belum termasuk, menunggu surat keputusan resmi.
Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan dan komunikasi antara masyarakat dan SPPG. “Kami menghargai masukan dari masyarakat pedalaman agar distribusi MBG merata, termasuk di daerah terpencil seperti Long Apari,” katanya. Hal ini menegaskan keberhasilan program bergantung pada sinergi antara pemerintah, pengelola MBG, dan masyarakat.
Lebih lanjut dijelaskan Putri, program MBG bukan sekadar menyediakan makanan, tetapi juga menjadi upaya strategis dalam pencegahan stunting dan peningkatan kualitas gizi masyarakat. “Kami berharap semua penerima manfaat dapat menikmati makanan bergizi sesuai standar, sehingga tumbuh kembang anak optimal dan program ini benar-benar berdampak luas di Kalimantan Timur,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....