Lurah Sengkotek: Validasi Data Dukung Efektivitas Evakuasi Bencana
- 04 Feb 2026 07:02 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Validasi data kependudukan menjadi faktor penting dalam mendukung efektivitas evakuasi bencana, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia dan balita. Hal tersebut disampaikan Lurah Sengkotek, May Fadly, dalam dialog program Kentongan RRI Pro 1 Samarinda yang membahas kesiapsiagaan bencana berbasis kelurahan.
May Fadly mengatakan, secara geografis Kelurahan Sengkotek relatif aman dari banjir darat. Namun, wilayah yang berada di bantaran Sungai Mahakam tetap merasakan dampak saat terjadi kenaikan air pasang. “Kalau di darat alhamdulillah aman, tapi rumah penduduk yang berada di pinggir sungai memang paling terasa saat air pasang,” ujar May Fadly kepada RRI, dikutip Rabu, 4 Februari 2026.
Ia menjelaskan, wilayah Sengkotek terbagi oleh Jalan Cipto Mangunkusumo, di mana sebagian besar rumah warga di sisi sungai berada di area yang lebih rentan. Meski demikian, warga yang bermukim di bantaran sungai dinilai sudah cukup terbiasa dengan kondisi tersebut. “Biasanya air pasang hanya dua sampai tiga hari sudah surut,” ucapnya.
Terkait kesiapan evakuasi, ia menegaskan pihak kelurahan telah memiliki data kependudukan warga yang tinggal di wilayah rawan. Namun hingga kini, belum pernah terjadi kondisi darurat yang mengharuskan evakuasi besar-besaran akibat banjir. “Data penduduk yang tinggal di pinggir sungai itu sebenarnya ada, hanya saja alhamdulillah belum pernah sampai harus mengevakuasi warga,” katanya.
Menurutnya, potensi bencana yang lebih sering dihadapi Kelurahan Sengkotek justru berasal dari faktor manusia, khususnya kebakaran. Permukiman yang padat dengan rumah berbahan kayu membuat risiko kebakaran menjadi perhatian utama. “Kerawanan terbesar kami tetap kebakaran karena rumah warga rapat dan mayoritas dari kayu,” ujar May Fadly.
Ia mengungkapkan, penyebab kebakaran yang paling sering terjadi adalah korsleting listrik, terutama pada rumah-rumah tua dengan instalasi yang sudah tidak layak. “Kejadian paling banyak itu karena konsleting. Instalasi listriknya sudah lama dan tidak sesuai standar,” ucapnya.
May Fadly menambahkan, pemerintah kelurahan secara rutin melakukan sosialisasi pencegahan kebakaran, termasuk menyampaikan imbauan dari pihak PLN kepada warga. Namun, upaya peremajaan instalasi listrik menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait perizinan rumah di bantaran sungai. “Kalau sosialisasi pasti ada, tapi untuk peremajaan instalasi memang banyak kendala, apalagi rumah di pinggir sungai,” katanya.
Selain persoalan kebencanaan, ia juga menyoroti dinamika kependudukan di Sengkotek. Saat ini, jumlah penduduk tercatat sekitar 6.700 jiwa, namun berpotensi meningkat seiring masuknya pendatang yang bekerja di perusahaan sekitar wilayah tersebut. “Masih banyak warga pendatang yang belum memindahkan administrasi kependudukannya,” ujarnya.
Dalam menghadapi tantangan penyebaran informasi, May Fadly menyebut komunikasi di Kelurahan Sengkotek relatif mudah karena wilayahnya berada dalam satu jalur utama. Hal ini memudahkan filtrasi informasi dan meminimalkan penyebaran hoaks. “Kalau ada informasi yang meragukan, biasanya kami cek dulu, lalu disampaikan lewat grup RT untuk diteruskan ke warga,” ucapnya.
Ia menilai peran anak muda dan pemanfaatan grup WhatsApp RT sangat membantu dalam menyaring informasi sebelum disebarluaskan. Dengan mekanisme tersebut, isu hoaks dapat ditekan dan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat. “Kalau sudah dipastikan benar, baru kami sebar ke warga. Itu cara kami membendung hoaks,” katanya.
Melalui pendataan kependudukan, penguatan komunikasi, serta peningkatan kesadaran warga, Kelurahan Sengkotek terus berupaya membangun sistem mitigasi bencana yang responsif, inklusif, dan tepat sasaran bagi seluruh lapisan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....