Gerak Selaras Ajarkan Teknologi, Menyapa Masa Depan Anak
- 31 Jan 2026 06:53 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Dalam obrolan program SPADA (Selamat Pagi Teman Pro2), Ade Hidayat dari komunitas Gerak Selaras berbagi cerita tentang gerakan pendidikan teknologi yang mereka rintis sejak 2021. Komunitas ini lahir dari keresahan sederhana namun krusial: masih banyak anak sekolah dasar yang belum mendapatkan pembelajaran teknologi dasar di kurikulum mereka.
Gerak Selaras menyasar anak kelas 4 dan 5 SD, meski pada kegiatan terakhir mereka juga mengajar kelas 5 dan 6. Ade menjelaskan, fokus utama komunitas ini adalah mengenalkan teknologi dasar yang sangat dibutuhkan untuk jenjang pendidikan selanjutnya. “Kami lihat masih banyak anak SD yang belum bisa pakai laptop sama sekali, padahal ke depan mereka gak bisa asing lagi sama teknologi,” ujar Ade.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajarkan penggunaan Microsoft Word hingga Canva. Materinya pun dibuat sangat praktis agar mudah dipahami. “Kami ajarkan hal dasar, kayak ngetik di Word sampai tambahan Canva. Karena makin naik jenjang, fitur-fitur ini pasti dipakai terus,” kata Ade mempertegas urgensi literasi digital sejak dini.
Tantangan terbesar justru datang dari keterbatasan fasilitas dan tenaga. Ade mengungkapkan, pada kegiatan terakhir mereka harus mengajar 138 anak SD dengan hanya sekitar 20 relawan. “Jujur kemarin kami kaos banget, satu orang bisa megang sampai 10 anak, dan itu cuma pakai satu laptop,” ceritanya. Meski begitu, rasa lelah terbayar lunas setelah kegiatan selesai. “Habis ngelaksanain tuh rasanya senang banget,” katanya.
Karena berada di bawah naungan yayasan, Gerak Selaras juga dibekali fasilitator pendidikan. Para relawan mendapatkan pelatihan tentang regulasi emosi dan cara menghadapi anak-anak. “Ngajarin anak SD itu beda, jadi kami juga diajarin gimana ngatur emosi dan menyampaikan materi yang pas,” ujar Ade. Menariknya, para relawan berasal dari latar belakang yang beragam, tidak semuanya dari dunia pendidikan.
Ade menyebutkan, hingga kini Gerak Selaras sudah 19 kali bergerak di berbagai kegiatan. Bahkan, ada permintaan lanjutan dari sekolah yang ingin diajarkan materi lebih spesifik. “Kadang ada yang minta diajarin Canva sampai Excel, bahkan fitur-fitur detailnya,” ujarnya, menunjukkan antusiasme sekolah dan siswa.
Dari semua pengalaman itu, Ade menyimpulkan bahwa tantangan terbesar justru ada pada diri sendiri sebagai pengajar nonformal. “Karena kami bukan pengajar, kami harus lewatin banyak fase: belajar dulu, baru ngajarin,” katanya. Ia juga menemukan metode paling efektif untuk anak SD. “Anak-anak gak terlalu suka cerita panjang atau PPT. Tapi kalau difasilitasi laptop dan langsung praktik, mereka semangat. Kemarin aja kami ajarin bikin surat rata kanan kiri, dan mereka langsung paham,” katanya Ade.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....