Pulau Rubiah, Dulu Tempat Karantina Haji Kini Jadi Surga Bawah Laut
- 31 Agt 2026 21:49 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Wisatawan yang datang ke Pulau Rubiah biasanya mencari hal yang sama - laut jernih, ikan warna-warni, dan terumbu karang yang dapat dinikmati dari balik masker snorkeling.
Perahu-perahu wisata membawa pengunjung dari kawasan Iboih menuju pulau kecil yang berada di barat laut Pulau Weh tersebut. Sesampainya di sana, perhatian wisatawan seolah langsung tertuju pada laut.
Tetapi Pulau Rubiah bukan hanya tentang apa yang terlihat di bawah permukaan.
Pulau kecil yang kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan Sabang itu menyimpan cerita sejarah yang panjang. Jauh sebelum snorkeling dan diving menjadi aktivitas wisata, Pulau Rubiah memiliki kaitan dengan perjalanan jemaah haji pada masa lalu.
Pemerhati sejarah, Albina Arrahman, mengatakan sejarah Pulau Rubiah sebagai lokasi karantina jemaah haji menjadi bagian penting dari perjalanan Sabang yang perlu terus diperkenalkan.
“Pulau Rubiah memiliki cerita sejarah yang panjang. Sebelum dikenal sebagai tempat wisata bahari, pulau ini sudah memiliki fungsi penting, salah satunya berkaitan dengan karantina jemaah haji,” kata Albina, Senin 31 Agustus 2026.
Menurutnya, perjalanan menuju Tanah Suci pada masa lalu membutuhkan waktu panjang karena jemaah dari berbagai daerah harus menempuh perjalanan laut menggunakan kapal.
Sabang yang berada di jalur pelayaran internasional kemudian memiliki peran dalam perjalanan tersebut. Pulau Rubiah menjadi salah satu lokasi yang berkaitan dengan proses karantina jemaah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci.
Kisah itu memberi dimensi lain bagi Pulau Rubiah.
Jika dahulu kawasan tersebut berkaitan dengan perjalanan panjang para jemaah menuju Tanah Suci, kini pengunjung datang membawa kamera bawah air, masker snorkeling, dan perlengkapan selam.
Perubahan wajah Pulau Rubiah berlangsung seiring berkembangnya Sabang sebagai destinasi wisata bahari. Kejernihan perairannya menjadi daya tarik yang membuat kawasan tersebut semakin dikenal wisatawan.
Dari permukaan laut, ikan dan terumbu karang dapat terlihat dengan jelas. Bagi wisatawan yang ingin menjelajah lebih jauh, kawasan perairan Pulau Rubiah juga menawarkan pengalaman menyelam dengan lanskap bawah laut yang menjadi salah satu kekuatan wisata Sabang.
Bagi pengunjung, pengalaman di Pulau Rubiah mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Bagi Sabang, pulau tersebut menyimpan cerita yang melintasi zaman.
“Justru ini yang menarik. Satu tempat memiliki dua cerita. Orang datang karena keindahan alam, tetapi ketika mengetahui sejarahnya, mereka akan melihat Pulau Rubiah dengan cara yang berbeda,” ujar Albina.
Ia menilai kisah sejarah karantina haji perlu diperkenalkan lebih kuat dalam pengembangan pariwisata Pulau Rubiah. Narasi tersebut dapat melengkapi daya tarik alam tanpa mengubah karakter utama kawasan sebagai destinasi bahari.
Sejarah, menurutnya, dapat menjadi penghubung antara destinasi dan wisatawan. Pengunjung tidak hanya melihat keindahan sebuah tempat, tetapi juga memahami perjalanan panjang yang pernah terjadi di dalamnya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia. Ia mengatakan kekuatan Pulau Rubiah justru terletak pada perpaduan antara keindahan alam dan cerita sejarah.
“Pulau Rubiah tidak hanya memiliki keindahan bawah laut. Ada sejarah yang menjadi bagian dari identitas kawasan tersebut. Ini yang bisa menjadi nilai tambah bagi wisatawan,” kata Harry.
Menurut Harry, pola perjalanan wisatawan saat ini semakin mengarah pada pencarian pengalaman. Wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto atau menikmati pemandangan, tetapi juga tertarik mengetahui cerita di balik destinasi.
Karena itu, sejarah Pulau Rubiah dinilai dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata.
“Kalau orang datang, snorkeling, menikmati laut, kemudian mengetahui bahwa pulau ini dahulu berkaitan dengan perjalanan jemaah haji, tentu pengalaman wisatanya menjadi berbeda,” ujarnya.
Pengembangan wisata berbasis sejarah tidak harus menghilangkan karakter Pulau Rubiah sebagai destinasi bahari. Keduanya justru dapat dikemas secara berdampingan agar wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih utuh.
Di satu sisi, laut menjadi daya tarik utama. Di sisi lain, cerita sejarah memberi konteks mengapa kawasan Pulau Weh sejak dahulu memiliki posisi penting dalam perjalanan manusia dan pelayaran.
Pulau Rubiah hari ini memang lebih identik dengan snorkeling. Perahu wisata datang dan pergi membawa pengunjung dari kawasan Iboih.
Di bawah permukaan laut, terumbu karang dan ikan menjadi tontonan yang membuat wisatawan ingin berlama-lama. Air yang jernih seolah menjadi jendela menuju kekayaan bahari Pulau Weh.
Tetapi ketika wisatawan keluar dari air dan mulai mendengar cerita tentang masa lalu pulau tersebut, pengalaman itu berubah.
Di balik laut yang tenang tersimpan kisah perjalanan manusia yang pernah menjadikan kawasan Sabang sebagai salah satu persinggahan penting dalam perjalanan menuju Tanah Suci.
Pulau Rubiah akhirnya memiliki dua wajah yang saling melengkapi.
Wajah pertama adalah alam - laut jernih, terumbu karang, dan kehidupan bawah laut yang menjadi magnet wisatawan.
Wajah kedua adalah sejarah - sebuah cerita tentang perjalanan panjang jemaah haji dan peran Sabang dalam jalur pelayaran masa lalu.
Albina berharap pengembangan Pulau Rubiah ke depan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan, tetapi juga memperkuat narasi sejarah yang dimiliki kawasan tersebut.
“Keindahan alam harus dijaga, sejarah juga harus dirawat. Kalau keduanya bisa berjalan bersama, Pulau Rubiah akan memiliki daya tarik yang lebih kuat,” katanya.
Pulau Rubiah akhirnya memiliki alasan untuk dikunjungi dari dua arah.
Dari atas permukaan, lautnya memanjakan mata.
Dari cerita masa lalunya, pulau itu mengajak wisatawan mengenal kembali perjalanan panjang Sabang sebagai kawasan yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan jemaah haji dan jalur pelayaran dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....