Transformasi Digital BPJS Kesehatan, Hadirkan Layanan hingga Pelosok Negeri
- 30 Jul 2026 20:31 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Letak geografis Indonesia sebagai negara kepulauan masih menjadi tantangan dalam pemerataan layanan kesehatan. Di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), masyarakat kerap harus menempuh perjalanan jauh untuk mengurus administrasi kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) maupun memperoleh layanan kesehatan.
Menjawab tantangan tersebut, BPJS Kesehatan terus memperluas akses layanan melalui transformasi digital dan pelayanan jemput bola. Melalui Virtual Office Layanan Informasi dan Administrasi (VIOLA), BPJS Keliling, serta telemedicine, masyarakat kini dapat mengakses layanan administrasi maupun konsultasi kesehatan tanpa harus selalu datang ke kantor cabang atau fasilitas kesehatan.
VIOLA merupakan layanan berbasis video conference yang menghubungkan masyarakat dengan petugas BPJS Kesehatan untuk mengurus administrasi kepesertaan, memperoleh informasi Program JKN, hingga menyampaikan pengaduan secara real time. Layanan ini difasilitasi di puskesmas, kantor desa, kecamatan, sekolah dan berbagai lokasi pelayanan publik di wilayah 3T.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengungkapkan, sepanjang Januari hingga Mei 2026 sebanyak 218.729 masyarakat telah memanfaatkan layanan VIOLA. Transformasi digital harus tetap menyesuaikan kondisi di lapangan karena masih terdapat keterbatasan jaringan komunikasi, kondisi geografis yang sulit dijangkau, serta belum meratanya kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital.
Transformasi layanan tersebut turut dirasakan masyarakat di Kota Sabang, Provinsi Aceh. Kepala BPJS Kesehatan Cabang Sabang, Rudi Baruna, mengatakan masyarakat kini dapat memanfaatkan layanan VIOLA maupun telemedicine untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan administrasi JKN dengan lebih mudah.
"Masyarakat yang berada di wilayah yang sulit mengakses layanan kesehatan dikumpulkan di kantor desa atau kelurahan untuk diberikan layanan informasi atau administrasi serta menyampaikan kepada petugas BPJS Kesehatan yang terhubung melalui VIOLA," ujar Rudi, Kamis 30 Juli 2026.
Menurutnya, Sabang juga menjadi salah satu daerah percontohan telemedicine sejak 2024. Kini layanan tersebut tidak hanya digunakan di Desa Pria Laot, Kecamatan Sukamakmu, Sabang, tetapi juga telah diterapkan di seluruh puskesmas pembantu (Pustu) dan puskesmas di Kota Sabang.
Manfaat telemedicine turut dirasakan Desi Mirandayati atau lebih akrab disapa Mira, bidan Desa Pria Laot. Menurutnya, layanan tersebut menjadi penghubung antara bidan di pustu dengan dokter di puskesmas ketika pasien membutuhkan penanganan di luar kewenangannya.
"Pasien yang tidak dapat ditangani bidan akan dikonsultasikan kepada dokter melalui telemedicine. Kami dapat mengirim foto maupun video kondisi pasien, kemudian dokter memberikan diagnosis sekaligus resep obat yang dibutuhkan," ujar Mira.
Menurutnya, layanan tersebut mempercepat pengambilan keputusan medis sehingga masyarakat tidak selalu harus menempuh perjalanan ke puskesmas atau rumah sakit. Ia memanfaatkan layanan telemedicine 7 hingga 10 kali dalam satu bulan.
Meski demikian, Kondisi geografis Sabang menyebabkan kualitas jaringan internet belum selalu stabil sehingga sesekali menghambat proses konsultasi daring. Karena itu, pembangunan infrastruktur telekomunikasi diharapkan terus diperkuat.
Selain tenaga kesehatan, masyarakat juga merasakan manfaat layanan BPJS Kesehatan. Malahayati, warga Desa Krueng Raya, Kecamatan Sukakarya, Sabang, mengaku kini lebih mudah memperoleh layanan administrasi maupun konsultasi kesehatan tanpa harus mengeluarkan biaya dan waktu yang besar.
Menurutnya, inovasi tersebut sangat membantu masyarakat di daerah kepulauan karena pelayanan menjadi lebih cepat, mudah, dan efisien. Kehadiran layanan digital juga membuat masyarakat merasa lebih dekat dengan layanan kesehatan.
Transformasi layanan BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa pemerataan layanan kesehatan tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fasilitas fisik, tetapi juga melalui inovasi yang mampu menjangkau masyarakat hingga pelosok negeri.
Melalui layanan VIOLA, BPJS Keliling dan telemedicine, teknologi menjadi penghubung yang memperpendek jarak antara masyarakat di wilayah 3T dengan layanan kesehatan. Di Kota Sabang, inovasi tersebut membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan lagi menjadi penghalang untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih cepat, mudah dan merata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....