Begini Tantangan Pemilahan Sampah dan Prediksi Pengelolaan Sampah Masa Depan

  • 06 Mar 2026 09:14 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Saat ini, di tengah laju masyarakat yang pesat, sampah telah menjadi tantangan yang mengancam Kesehatan publik dan keberlanjutan lingkungan. Pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab kolektif, berupa dukungan pemerintah dan kesadaran dari masyarakat.

Anggota Sustainable Development Program Goals USK, Dr. Rini Safitri, M.Si, mengatakan bahwa hambatan terbesar dalam pengelolaan sampah saat ini bukanlah ketiadaan teknologi, melainkan perilaku masyarakat dalam membuang sampah, terutama enggannya memilah sampah. “Kunci keberlanjutan ada pada pemilahan di sumber sampah. Namun, kebanyakan rumah tangga masih masih mencampur semua sampah dalam satu wadah,” ujarnya dalam dialog bersama Pro 1 Banda Aceh, Sabtu 14 Februari 2026.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa pemisahan sederhana antara sampah organic (sisa makanan) dan anorganik (plastik, kertas, kaca) dapat secara drastis dapat mengurangi beban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah yang bercampur, terutama jika terkena limbah basah, akan lebih sulit dan mahal untuk didaur ulang.

Ia menekankan tiga pondasi utama dalam pengelolaan sampah yang dapat diterapkan oleh setiap orang, antara lain:

  • Reduce (Mengurangi), merupakan Langkah preventif dalam mengurangi penggunaan kantong plastic sekali pakai, misalnya membawa tumbler sendiri saat ngopi, atau membawa tas belanja sendiri ketika berbelanja.
  • Reuse (Menggunakan Kembali), berupa memanfaatkan Kembali barang-barang yang masih layak pakai atau mengubah fungsinya agar tidak langsung berakhir di tempat sampah.
  • Recycle (Mendaur Ulang), yaitu mengolah sampah menjadi produk baru. Misalnya sampah organic dapat diolah menjadi kompos atau ekoenzim, sementara sampah plastic dapat dicacah menjadi biji plastic yang bernilai ekonomi.

Ke depannya, ia memprediksi kemungkinan Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT), akan merevolulsi sektor ini. Teknologi AI dapat membantu penyortiran sampah secara otomatis, sementara IoT bisa digunakan untuk memantau kapasitas tong sampah kota secara real time guna mengoptimalkan rute truk pengangkut sampah.

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa pendidikan karakter lingkungan harus dimulai dari keluarga dan sekolah dasar. Mengajarkan anak-anak untuk mengenal jenis sampah bukan hanya soal kebersihan, tapi soal membentuk tanggung jawab moral terhadap bumi. Sejak dini harus paham bahwa menjaga lingkungan adalah salah satu bentuk investasi untuk masa depan mereka sendiri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....