Jaga Istiqamah Pasca Ramadan, Kunci Kembali ke Fitrah

  • 23 Mar 2026 22:10 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang — Menjelang Hari Raya Idul Fitri, umat Islam diingatkan untuk tidak hanya merayakan kemenangan, tetapi juga menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan. Istiqamah dinilai menjadi kunci agar nilai-nilai Ramadan tetap hidup dalam sebelas bulan berikutnya.

Pimpinan Maahad Darul Fatah, Ustadz Tgk. Fakhruddin Asmi, mengatakan kebiasaan baik yang telah terbentuk selama Ramadan harus dipertahankan. Menurutnya, Ramadan adalah momentum latihan spiritual yang tidak boleh berhenti setelah bulan suci berakhir.

“Ambil apa yang sudah ada dalam Ramadan. Bawa terus, karena salah satu rahasia berkah itu Allah tambah-tambahkan kebaikan dalam kebaikan,” ujar Ustadz Tgk. Fakhruddin dalam perbincangan bersama RRI, Jumat 20 Maret 2026.

Ia mencontohkan, perubahan kecil dalam pola hidup selama Ramadan seperti pengendalian diri dan kesederhanaan harus terus dijaga. Jika kebiasaan baik itu diturunkan kembali, maka nilai latihan selama Ramadan akan hilang.

Selain itu, ia menekankan pentingnya memilih lingkungan yang baik untuk menjaga keimanan. Lingkungan pergaulan, menurutnya, sangat berpengaruh terhadap konsistensi seseorang dalam beribadah.

“Kalau dalam Ramadan pergaulannya sudah bagus, kenapa kemudian keluar lagi dari pergaulan yang sudah baik itu”, katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa godaan untuk kembali pada kebiasaan lama sering datang dari lingkungan yang tidak mendukung. Karena itu, umat Islam diminta selektif dalam memilih tempat dan komunitas.

“Kalau kita belum sanggup menjaga diri, ngapain berada di tempat yang penuh dengan tawaran maksiat. Pilih lingkungan yang lebih baik”, tambahnya.

Lebih lanjut, Tengku Fakhruddin menjelaskan bahwa maksiat tidak selalu berbentuk besar, tetapi juga bisa dimulai dari hal kecil seperti menunda kewajiban tanpa alasan yang jelas.

“Menunda salat tanpa uzur itu sudah maksiat. Apalagi menunda-nunda yang sifatnya wajib, derajat maksiatnya naik lagi,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga “lingkungan batin”, yakni hati dan pikiran dari bisikan hawa nafsu. Menurutnya, godaan seringkali datang secara halus dan tidak disadari.

“Bujukan setan itu halus sekali. Tidak terindra, tapi masuk ke perasaan dan membangkitkan hawa nafsu untuk tidak tunduk kepada Allah SWT”, katanya.

Melalui momentum Idul Fitri, ia mengajak umat Islam untuk benar-benar kembali ke fitrah, bukan hanya secara simbolik, tetapi juga dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Dengan menjaga istiqamah, diharapkan nilai-nilai Ramadan seperti ketakwaan, kesabaran, dan pengendalian diri dapat terus melekat dalam kehidupan umat Islam sepanjang tahun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....