FaceInsight dan Avoscan, Inovasi AI USK untuk Pengenalan Wajah hingga Deteksi Kema

  • 27 Jul 2026 13:51 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang – Peneliti Universitas Syiah Kuala (USK) terus mengembangkan berbagai inovasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung sektor keamanan, pelayanan publik, hingga pertanian. Dua inovasi yang tengah dikembangkan adalah FaceInsight, sistem pengenalan wajah berbasis AI, dan Avoscan, aplikasi Android yang mampu mendeteksi tingkat kematangan buah alpukat dengan tingkat akurasi tinggi.

Peneliti sekaligus pengembang FaceInsight, Muhammad Chaidir, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa aplikasi tersebut mengombinasikan teknologi pengenalan wajah (face recognition) dengan estimasi usia (age estimation). Pendekatan ini memungkinkan sistem tetap mengenali identitas seseorang meskipun terjadi perubahan tekstur maupun struktur wajah akibat pertambahan usia.

"FaceInsight menggabungkan estimasi usia dan pengenalan wajah. Dengan cara ini, sistem tetap mampu mengenali seseorang meskipun terjadi perubahan tekstur maupun struktur wajah karena faktor usia," ujarnya dalam Dialog Khusus RRI Banda Aceh, Rabu 22 Juli 2026.

Menurut Chaidir, teknologi tersebut memiliki potensi penerapan yang luas, mulai dari sistem absensi digital, layanan keamanan, hingga membantu proses pencarian orang hilang dan identifikasi pelaku tindak kriminal. Namun demikian, ia menegaskan bahwa pengembangan FaceInsight tetap mengedepankan perlindungan data pribadi pengguna.

"Foto wajah yang digunakan tidak disimpan di dalam sistem. Gambar hanya diproses untuk menghasilkan prediksi, kemudian selesai sampai di situ sehingga privasi pengguna tetap terjaga," katanya.

Sementara itu, Ketua Pusat Riset Data Sains dan Kecerdasan Buatan USK, Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin, S.Si., M.Tech., memperkenalkan Avoscan, aplikasi berbasis Android yang memanfaatkan teknologi AI untuk mengidentifikasi tingkat kematangan buah alpukat melalui analisis citra.

Prof. Taufik menjelaskan, model AI pada Avoscan dikembangkan menggunakan dataset alpukat lokal Aceh sehingga mampu memberikan hasil yang lebih akurat sesuai karakteristik buah di daerah tersebut. Berdasarkan hasil pengujian, aplikasi itu memiliki tingkat akurasi sekitar 96 persen.

"Kami melatih model menggunakan dataset alpukat lokal dari Aceh sehingga hasilnya lebih sesuai dengan kondisi di lapangan. Akurasinya mencapai sekitar 96 persen," ujarnya.

Selain membantu konsumen memilih alpukat sesuai tingkat kematangan yang diinginkan, Avoscan juga berpotensi dimanfaatkan oleh petani, pedagang, dan pelaku industri pangan dalam proses sortasi buah. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi kerja, menjaga kualitas produk, serta mengurangi kesalahan dalam proses seleksi hasil panen.

Di akhir dialog, Prof. Taufik mengajak generasi muda Aceh untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi inovator yang mampu memanfaatkan AI sebagai solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.

"Kita ingin anak-anak muda menjadi kreator, bukan sekadar pengguna. Mulailah dari masalah sederhana di sekitar kita, lalu manfaatkan AI untuk menghadirkan solusi yang bermanfaat," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....