USK Kenalkan SIJAFIT, Desinfektan Lokal untuk Biosekuriti Peternakan
- 23 Agt 2026 22:00 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Aceh Besar – Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Syiah Kuala (USK) melaksanakan pelatihan pembuatan desinfektan SIJAFIT berbasis daun sirih, daun jambu, dan cuka di Gampong Seureumo, Aceh Besar. Kegiatan ini menjadi upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menerapkan sanitasi serta biosekuriti di lingkungan peternakan.
Pelatihan tersebut sekaligus mendorong masyarakat memanfaatkan bahan lokal yang relatif mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi alternatif sederhana dan aplikatif bagi peternak dalam mendukung kebersihan serta sanitasi peternakan.
Ketua pelaksana pengabdian, drh. Riyan Ferdian, M.Si., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi untuk menghadirkan manfaat ilmu pengetahuan secara langsung kepada masyarakat. Menurutnya, USK tidak hanya berperan dalam bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial melalui pengabdian kepada masyarakat.
“Pengabdian kepada masyarakat ini menjadi salah satu bukti nyata kehadiran USK di tengah masyarakat. Kami berupaya hadir, melayani, memberikan dampak, serta berkontribusi dalam menghadirkan solusi terhadap permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat, khususnya para peternak,” ujar drh. Riyan Ferdian, Minggu 23 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, SIJAFIT atau Sirih–Jambu Field Intervention Technology merupakan inovasi desinfektan berbasis kombinasi daun sirih, daun jambu, dan cuka. Inovasi tersebut dikembangkan dengan pendekatan teknologi lapangan yang sederhana dan disesuaikan dengan kebutuhan peternak.
Riyan menambahkan, teknologi yang diberikan kepada masyarakat tidak harus selalu rumit maupun mahal. Menurutnya, inovasi akan lebih mudah diterapkan apabila dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, mudah digunakan, serta didukung pendampingan secara berkelanjutan.
“SIJAFIT kami perkenalkan bukan hanya sebagai sebuah produk, tetapi sebagai bentuk bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi solusi sederhana yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kami berharap peternak dapat menerapkan pengetahuan tersebut secara mandiri dan membagikannya kepada peternak lainnya sehingga budaya biosekuriti dapat berkembang di tingkat kelompok," ujarnya.
Geuchik Gampong Seureumo, Feriansyah, A.Md., menyambut baik pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurutnya, kehadiran perguruan tinggi memberikan kesempatan kepada masyarakat, khususnya peternak, untuk memperoleh pengetahuan baru sekaligus solusi yang dapat diterapkan dalam pengelolaan peternakan sehari-hari.
Sementara itu, Ketua Kelompok Juara Tani, Syafrizal, menilai pelatihan memberikan manfaat karena peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai penyakit dan biosekuriti, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam membuat bahan sanitasi yang dapat dikembangkan di tingkat kelompok.
"Kegiatan ini bisa memperkuat kolaborasi antara USK, pemerintah gampong, kelompok tani, peternak, penyuluh, dan mahasiswa. Kolaborasi diharapkan dapat menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan inovasi perguruan tinggi dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat," ucapnya.
Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari terlaksananya pelatihan dan dihasilkannya SIJAFIT, tetapi juga dari perubahan pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan peternak dalam menerapkan sanitasi serta biosekuriti secara mandiri dan berkelanjutan. Melalui kegiatan tersebut, USK terus mendorong sinergi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk mendukung pembangunan peternakan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....