Wakil Ketua DPRK Albina Dorong Konsep Perdamaian Menyentuh Generasi Muda

  • 17 Agt 2026 08:11 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang: Wakil Ketua DPRK Sabang Albina Arrahman mendorong agar nilai-nilai perdamaian dikemas dengan pendekatan yang lebih relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini. Menurutnya, perdamaian Aceh yang sudah berumur 21 Tahun tidak cukup hanya dipahami sebagai berakhirnya konflik bersenjata, tetapi harus diterjemahkan ke dalam kehidupan generasi yang menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks.

Albina mengatakan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab untuk menemukan cara baru dalam menyampaikan nilai perdamaian kepada generasi muda. Pendekatan tersebut perlu menggunakan bahasa, kreativitas dan ruang yang dekat dengan kehidupan anak muda agar pesan perdamaian benar-benar dapat dipahami.

“Konsep-konsep perdamaian Aceh harus mampu dikemas dalam konteks kekinian yang bisa dimaknai oleh generasi hari ini. Dengan begitu, nilai perdamaian dapat membentuk generasi yang positif, berkarakter keacehan dan memiliki karakter kebangsaan, serta jauh dari pengaruh-pengaruh negatif yang hari ini berkembang secara internasional, seperti LGBT, narkoba dan berbagai persoalan sosial lainnya,” ujar Albina, Sabtu 15 Agustus 2026.

Ia menilai generasi yang lahir dan tumbuh setelah konflik memiliki pengalaman yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Sebagian besar tidak mengalami langsung situasi konflik sehingga pemaknaan terhadap perdamaian tidak bisa hanya dibangun melalui cerita mengenai pertikaian masa lalu.

Menurut Albina, tantangan generasi muda saat ini telah bergeser mengikuti perkembangan zaman. Pengaruh lingkungan, perkembangan teknologi, pergaulan dan berbagai persoalan sosial dapat membentuk karakter generasi apabila tidak diimbangi pendidikan serta pemahaman nilai yang kuat.

Karena itu, mengisi perdamaian pada masa kini harus diarahkan pada upaya membangun karakter generasi muda agar mampu menjauhkan diri dari berbagai perilaku yang dapat merusak masa depan. Penyalahgunaan narkoba dan berbagai pengaruh negatif lainnya menjadi tantangan yang perlu dihadapi melalui pendekatan yang sesuai dengan kehidupan anak muda.

“Damai mereka hari ini bukan lagi bicara konflik. Damai mereka hari ini adalah bagaimana mereka mampu melahirkan karakter yang tidak berkonflik, tidak negatif dan tidak membawa masalah bagi dirinya maupun lingkungan,” katanya.

Albina menilai perubahan bentuk tantangan tersebut harus diikuti perubahan cara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga perdamaian. Jika dahulu perdamaian berkaitan erat dengan penghentian pertikaian dan penyelesaian persoalan politik serta ketidakadilan, generasi hari ini menghadapi tantangan yang lebih dekat dengan persoalan perilaku dan lingkungan sosial.

Ia mencontohkan potensi konflik di kalangan anak muda dapat muncul dari berbagai persoalan sosial seperti perselisihan antarkelompok, pengaruh lingkungan pergaulan hingga perilaku yang berkembang melalui ruang digital. Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui pendidikan, pembinaan karakter dan kegiatan positif yang melibatkan generasi muda.

Albina juga mengingatkan bahwa menjaga perdamaian bukan hanya tugas pemerintah. Seluruh pihak yang memiliki perhatian terhadap keberlanjutan perdamaian Aceh perlu ikut mencari pola komunikasi yang mampu menjangkau generasi muda dengan cara yang mereka pahami.

“Bagaimana memahamkan damai kepada generasi hari ini dalam pemahaman mereka. Kita berharap siapa pun yang punya perhatian terhadap perdamaian Aceh mampu masuk ke lini itu,” ujarnya.

Menurutnya, ruang digital harus menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan pesan perdamaian secara kreatif. Generasi muda yang sangat dekat dengan media sosial perlu mendapatkan konten yang tidak hanya mengingatkan sejarah konflik tetapi juga menawarkan nilai, inspirasi dan pilihan kehidupan yang positif.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar perdamaian Aceh tidak berhenti sebagai peringatan tahunan. Nilai perdamaian harus terus dihidupkan dalam pendidikan, lingkungan keluarga, komunitas, ruang digital serta berbagai aktivitas kepemudaan.

Albina berharap 21 tahun damai Aceh menjadi momentum untuk memperluas cara pandang tentang makna perdamaian. Generasi muda perlu ditempatkan bukan hanya sebagai penerima warisan perdamaian tetapi sebagai aktor utama yang menentukan bagaimana perdamaian Aceh bertahan pada masa mendatang.

Dengan demikian, menjaga perdamaian tidak hanya berarti mencegah kembalinya konflik bersenjata. Perdamaian juga berarti membangun generasi yang mampu mengelola perbedaan, menjaga dirinya dari pengaruh negatif, menghormati sesama serta memiliki karakter keacehan dan kebangsaan yang kuat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....