Dari Nol Kilometer Indonesia, Sensus Ekonomi 2026 Memotret Negeri

  • 23 Mei 2026 00:00 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Dari titik Kilometer Nol Indonesia, Sabang, Provinsi Aceh, sebuah kerja besar kembali dimulai: Sensus Ekonomi 2026. Gerbang paling barat negeri, langkah awal ini menjadi simbol bagaimana Indonesia kembali “Menghitung Dirinya Sendiri” untuk memahami denyut ekonomi yang terus bergerak.

Sabang bukan hanya menjadi penanda geografis Indonesia, tetapi juga simbol keterhubungan bangsa dari Sabang sampai Merauke. Melalui Badan Pusat Statistik (BPS), Sensus Ekonomi (SE) 2026 kembali menegaskan pentingnya data sebagai dasar pembangunan nasional dengan mendata seluruh aktivitas usaha di Indonesia, mulai dari usaha mikro hingga perusahaan besar, dalam pendataan yang rutin dilakukan setiap 10 tahun sejak 1986.

Pemilihan narasi “Titik Nol” bukan sekadar simbol, tetapi juga pengingat bahwa setiap kebijakan besar selalu berawal dari data yang kecil dan sederhana di lapangan.

Dari Titik Nol Kilometer, Pulau Weh Sabang, para petugas sensus memulai perjalanan panjang mendata aktivitas ekonomi masyarakat. Warung kecil, usaha rumahan, hingga pelaku jasa lokal menjadi bagian penting dari potret besar ekonomi Indonesia. Setiap data yang dikumpulkan bukan hanya angka, tetapi cerita tentang kerja, usaha, dan perubahan kehidupan masyarakat.

RRI mewawancarai Cut Nur, salah seorang Mitra Statistik yang telah menjadi bagian dari BPS Sabang selama 10 tahun. Ia mengatakan, sebelum pelaksanaan sensus, petugas terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan kepala desa setempat agar proses pendataan dapat berjalan lebih lancar.

Menurutnya, koordinasi tersebut penting untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait kedatangan petugas sensus sekaligus mempermudah akses pendataan di lapangan. Meski demikian, berbagai tantangan di lapangan sudah menjadi hal yang biasa dalam pekerjaannya.

“Sering kali saat petugas datang, rumah dalam keadaan kosong karena pemiliknya sedang bekerja. Akibatnya, petugas harus melakukan kunjungan ulang agar data yang diperoleh tetap lengkap dan akurat. Kondisi ini tentu membuat proses pendataan membutuhkan waktu lebih lama,” ujar Cut Nur.

Ia juga pernah menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat ketika proses pendataan. Meski begitu, para petugas sensus tetap berusaha melakukan pendekatan secara kekeluargaan agar masyarakat merasa nyaman dan memahami pentingnya pendataan tersebut.

Tantangan lainnya berasal dari kondisi geografis Kota Sabang yang memiliki wilayah pegunungan dan pesisir. Menurut Cut Nur, medan yang cukup berat terkadang menyulitkan petugas dalam menjangkau lokasi pendataan. Selain itu, keterbatasan jaringan internet di beberapa daerah terpencil juga menjadi kendala saat petugas harus mengirimkan data secara daring dari lapangan.

“Walaupun menghadapi berbagai tantangan dan hambatan, hal itu tidak mengurangi semangat kami sebagai Mitra Statistik BPS Sabang dalam mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi,” tambahnya.

Terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi oleh Mitra Statistik di lapangan, Sensus Ekonomi (SE) 2026 menjadi momen untuk melihat bagaimana ekonomi Indonesia berubah dalam satu dekade terakhir. Perkembangan usaha digital, pertumbuhan UMKM, hingga pergeseran pola konsumsi masyarakat menjadi bagian penting yang ingin ditangkap melalui pendataan ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sabang, Budi Kurniawan, mengatakan, dalam kurun 10 tahun, wajah ekonomi dapat berubah secara signifikan. Karena itu, Sensus Ekonomi menjadi alat penting untuk memastikan bahwa kebijakan pembangunan tetap relevan dengan kondisi riil di lapangan.

“Dari hasil Sensus Ekonomi yang dilakukan BPS Kota Sabang, mencatat jumlah usaha di Sabang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 2006 tercatat sebanyak 2.880 usaha, kemudian meningkat menjadi 3.991 usaha pada tahun 2016,” kata Budi Kurniawan, Kamis 21 Mei 2026.

Berdasarkan data tersebut, jelas Budi, terjadi penambahan sebanyak 1.111 usaha atau tumbuh sekitar 38,6 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun. Peningkatan ini menunjukkan geliat ekonomi masyarakat yang terus berkembang, terutama pada sektor perdagangan, jasa, dan usaha mikro kecil menengah yang menjadi penopang perekonomian daerah.

Ia mengatakan, pihaknya terus melakukan berbagai persiapan, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat dan pelaku usaha, penguatan kapasitas petugas lapangan, hingga koordinasi lintas sektor untuk memastikan pelaksanaan sensus berjalan optimal.

“Data yang dihasilkan akan menjadi fondasi penting dalam menyongsong Indonesia maju. Karena itu, kami berharap kepada masyarakat dan seluruh pelaku usaha dapat berpartisipasi aktif dan memberikan data yang akurat, lengkap dan terpercaya, agar potret ekonomi daerah dapat tergambar secara utuh,” katanya.

Di berbagai daerah, termasuk di Sabang, SE2026 yang mulai dilaksanakan pada bulan Mei hingga Agustus tahun ini, juga menjadi waktu yang tepat untuk memetakan potensi usaha lokal. Dari sektor perdagangan, pariwisata, kuliner, dan jasa yang terus berkembang. Dengan data yang akurat, pemerintah daerah dapat menyusun program pembangunan ekonomi yang lebih efektif sesuai kebutuhan masyarakat.

Selain bermanfaat bagi pemerintah, hasil sensus juga dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha, akademisi, dan investor untuk melihat peluang ekonomi di suatu wilayah. Data sensus mampu memberikan gambaran kondisi pasar, tren usaha, hingga potensi pengembangan sektor unggulan daerah.

SE2026 juga mendapat tanggapan positif dari masyarakat, khususnya para pelaku usaha di Kota Sabang. Salah satunya disampaikan Murni, pelaku usaha pakaian daring (fashion online shop), mengaku kini lebih banyak memanfaatkan media sosial dan aplikasi pesan singkat untuk memasarkan produknya kepada pelanggan.

“Perkembangan teknologi digital memberi kemudahan bagi pelaku usaha kecil dalam menjangkau konsumen, bahkan hingga ke luar daerah. Sebagian besar pesanan saat ini dilakukan secara online sehingga pemasaran tidak lagi terbatas pada penjualan secara langsung,” jelas Murni.

Ia berharap, melalui pelaksanaan sensus tersebut, pemerintah dapat melihat perkembangan usaha mikro dan kecil yang ada di daerah, sekaligus memberikan perhatian dan dukungan yang lebih maksimal bagi para pelaku usaha.

SE2026 tidak hanya menjadi Agenda Statistik Nasional, tetapi juga bagian dari upaya mendukung transformasi ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Melalui pendataan ini, BPS kembali menegaskan pentingnya pembangunan berbasis data untuk melihat kondisi serta perkembangan ekonomi masyarakat dari Sabang hingga seluruh Indonesia menuju masa depan yang lebih maju.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....