Dari 1986 ke 2026: Jejak Panjang Sensus Ekonomi Indonesia

  • 21 Mei 2026 18:54 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Sensus Ekonomi menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan pembangunan Indonesia. Sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun 1986 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pendataan nasional ini terus berkembang mengikuti dinamika zaman dan kebutuhan pembangunan nasional.

Selama empat dekade terakhir, Sensus Ekonomi (SE) yang mulai dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus 2026 secara Nasional, tidak hanya menjadi kegiatan pengumpulan data semata, tetapi juga menjadi cerminan perkembangan dunia usaha dan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu. Melalui sensus ini, pemerintah dapat memetakan pertumbuhan sektor usaha, melihat potensi ekonomi daerah, hingga merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.

Tugas BPS menurut Undang-Undang Satistik No. 16 tahun 1997, melaksanakan Survei dan Sensus. Survei mendata sebagian populasi, seperti: sampel data. Sedangkan sensus mendata seluruh populasi yang ada di Indonesia, tanpa terkecuali.

Salah satu sensus yang dilakukan oleh BPS adalah Sensus Ekononi. SE sudah dilaksanakan sejak tahun 1986 dan sensus ini dilakukan 10 tahun sekali, dengan tahun yang berakhiran 6. Dari 1986, 1996, 2006, 2016, hingga saat ini tahun 2026. Sensus Ekonomi menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi nasional.

Budi Kurniawan, Kepala BPS Kota Sabang, dalam wawancara bersama RRI, mengatakan, SE dilakukan setiap 10 tahun sekali karena berbagai pertimbangan, seperti efisiensi biaya, logistik yang besar, serta rekomendasi internasional dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

“Untuk menjalankan 1 sensus ini juga butuh persiapan yang intens, biasanya butuh waktu 1-2 tahun sebelum tahun sensusnya. Selain itu, sensus yang diadakan oleh BPS tidak hanya sensus ekonomi, tetapi ada juga sensus penduduk dan sensus pertanian. Masing-masing sensus sudah ditetapkan tahun berjalannya,” jelas Budi, Kamis 21 Mei 2026.

Perjalanan panjang dari 1986 hingga 2026 menunjukkan bagaimana metode pendataan terus mengalami perubahan. Jika pada masa awal pendataan masih dilakukan secara manual dengan pencatatan konvensional, kini proses sensus semakin modern dengan dukungan teknologi digital dan sistem pengolahan data berbasis elektronik.

Simak sejarah dan jejak panjang dari 1986 ke 2026 Sensus Ekonomi Indonesia:

Sensus Ekonomi 1986 (SE86)

Merupakan Sensus pertama yang dilakukan oleh BPS sebagai langkah awal dalam memetakan seluruh kegiatan usaha di Indonesia. SE86 ini menjadi tonggak penting karena menggabungkan berbagai sensus sektoral, seperti pertambangan dan penggalian, industri, konstruksi, hingga perdagangan. Langkah tersebut menjadi dasar awal dalam memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi ekonomi nasional pada masa itu.

Sensus Ekonomi 1996 (SE96)

Sepuluh tahun setelahnya, Sensus Ekonomi 1996 hadir sebagai penyempurnaan dari pelaksanaan sebelumnya, sekaligus mendukung program Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PJP II). Pada sensus ini, seluruh skala usaha—baik besar maupun kecil—dicatat untuk kepentingan perencanaan ekonomi nasional. Cakupannya meliputi berbagai sektor seperti pertambangan, industri, listrik, gas dan air, konstruksi, perdagangan, transportasi, lembaga keuangan, serta jasa-jasa. Selain itu, kegiatan usaha yang terfokus untuk membantu masyarakat, yang dikelola pihak swasta di bidang sosial seperti pendidikan, rumah sakit, dan layanan sosial juga ikut didata.

Sensus Ekonomi 2006 (SE06)

Pasca krisis ekonomi 1997, Sensus Ekonomi 2006 menjadi instrumen penting dalam memperbarui data usaha di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk memperbaiki pemetaan ekonomi agar proses pemulihan berjalan lebih terarah. SE06 memiliki peran strategis dalam mengidentifikasi jumlah usaha, memperbarui basis data, serta menyusun peta persebaran usaha di seluruh wilayah Indonesia. Pendataan dilakukan dengan pendekatan unit usaha, mencakup usaha besar hingga kecil, termasuk aktivitas ekonomi rumah tangga. Namun, sektor pertanian serta administrasi pemerintahan tidak termasuk dalam cakupan sensus ini.

Sensus Ekonomi 2016 (SE16)

Pada tahun 2016, Sensus Ekonomi difokuskan untuk menggambarkan struktur dan kinerja ekonomi Indonesia secara lebih komprehensif. Kegiatan ini bertujuan memberikan informasi mengenai kondisi ekonomi berdasarkan wilayah, jenis usaha, dan skala usaha. SE16 mencakup hampir seluruh sektor ekonomi, kecuali pertanian, kehutanan, dan perikanan, administrasi pemerintahan, kegiatan rumah tangga sebagai pemberi kerja, serta aktivitas produksi rumah tangga untuk konsumsi sendiri. Hasil sensus ini menjadi dasar penting dalam upaya pemerataan pembangunan ekonomi di seluruh Indonesia.

Di berbagai daerah, termasuk wilayah kepulauan dan pelosok, petugas sensus setiap dekade tetap menjadi ujung tombak keberhasilan pendataan. Mereka harus menghadapi berbagai tantangan di lapangan, mulai dari kondisi geografis yang sulit dijangkau, keterbatasan jaringan internet, hingga melakukan pendekatan kepada masyarakat agar bersedia memberikan data usaha secara terbuka.

Sensus Ekonomi 2026 untuk Indonesia Maju, menjadi momentum penting untuk melihat bagaimana perekonomian Indonesia terus bergerak di tengah perkembangan teknologi, perubahan pola usaha, dan tantangan global. Data yang dihasilkan diharapkan dapat memperkuat pembangunan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan usaha masyarakat di masa mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....