BPS Sabang Sukseskan Sensus Ekonomi 2026 untuk Indonesia Maju
- 20 Mei 2026 17:49 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Tiga tahun setelah berdirinya pada 1983, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sabang, Provinsi Aceh, melaksanakan tugas penting yaitu Sensus Ekonomi (SE) pertama secara nasional pada tahun 1986. Sensus ini dilakukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi dan perkembangan kegiatan usaha di berbagai sektor ekonomi di tanah air. SE kemudian dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali, yakni pada tahun 1996, 2006, dan 2016 dan tahun 2026.
Selain melaksanakan Sensus Ekonomi, BPS Sabang juga berperan mendukung pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan yang tepat sesuai kondisi masyarakat setempat, termasuk melalui pelaksanaan Sensus Penduduk, Sensus Pertanian dan berbagai sensus serta survei lainnya.
Sejak saat itu, SE menjadi catatan perjalanan perkembangan usaha di seluruh pelosok Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Pendataan Ekonomi mencatat denyut perekonomian masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu.
Perkembangan jumlah usaha di Sabang pun menunjukkan tren positif. Berdasarkan hasil SE, jumlah usaha pada tahun 2006 tercatat sebanyak 2.880 usaha dan meningkat menjadi 3.991 usaha pada tahun 2016.
Dari angka tersebut, terjadi pertumbuhan sekitar 38,6 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun. Kondisi ini menjadi gambaran bahwa semangat usaha masyarakat terus tumbuh meski berada di wilayah kepulauan.
Empat dekade berlalu, roda ekonomi terus bergerak. Usaha kecil tumbuh di sudut-sudut desa, perdagangan berkembang mengikuti arus zaman dan teknologi mulai mengubah cara masyarakat menjalankan usaha. Perubahan itu juga dirasakan masyarakat di Sabang, kota kepulauan yang berada di beranda barat Nusantara.
Di wilayah yang dikelilingi laut ini, aktivitas ekonomi masyarakat hidup dari berbagai sektor, mulai dari perdagangan, perikanan, pertanian, pariwisata, kuliner, hingga jasa. Warung kecil di pinggir jalan, usaha penginapan, hingga pelaku UMKM menjadi bagian penting penggerak ekonomi daerah.
Selain mendata usaha konvensional, SE2026 yang mulai dilaksanakan pada bulan Mei hingga Agustus tahun ini, akan memberi perhatian lebih pada perkembangan usaha berbasis digital yang terus tumbuh di tengah masyarakat. Aktivitas ekonomi yang sebelumnya dilakukan secara langsung, kini banyak beralih melalui platform daring, media sosial, hingga marketplace digital.
Di Sabang sendiri, perkembangan usaha digital mulai terlihat dari munculnya pelaku UMKM yang memasarkan produk melalui internet, layanan pesan antar makanan, hingga usaha rumahan yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan penjualan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sabang, Budi Kurniawan, mengatakan, pendataan ekonomi digital menjadi bagian penting dalam Sensus Ekonomi 2026. Perubahan pola usaha masyarakat, kata Budi, harus dapat terekam dengan baik agar pemerintah memiliki gambaran nyata mengenai perkembangan ekonomi saat ini.
“Ekonomi masyarakat terus berubah mengikuti perkembangan teknologi. Karena itu, sensus ekonomi kali ini tidak hanya melihat usaha konvensional, tetapi juga aktivitas usaha berbasis digital yang semakin berkembang di tengah masyarakat,” ujar Budi saat di wawancara RRI, Rabu 20 Mei 2026.
Ia menambahkan, data ekonomi digital nantinya diharapkan mampu menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pengembangan UMKM, peningkatan akses internet, hingga dukungan pelatihan usaha berbasis teknologi di daerah kepulauan.
Namun, pelaksanaan Sensus Ekonomi di wilayah kepulauan seperti Sabang bukan tanpa tantangan. Kondisi geografis yang tersebar, akses transportasi, hingga faktor cuaca menjadi hambatan tersendiri bagi petugas pendataan. Tidak sedikit usaha masyarakat yang berada di lokasi terpencil dan membutuhkan waktu lebih panjang untuk dijangkau.
Cut Nurmalahayati, selama 10 tahun menjadi mitra statistik BPS, mengaku, berbagai tantangan di lapangan sudah menjadi bagian dari pekerjaannya. Salah satu kendala yang paling sering dihadapi adalah ketika petugas datang untuk melakukan pendataan, warga yang ingin didata sedang tidak berada di rumah karena bekerja atau memiliki aktivitas di luar.
“Sering kali saat kami datang, rumah dalam keadaan kosong karena pemiliknya sedang bekerja. Jadi petugas harus kembali lagi atau melakukan kunjungan berulang agar data yang dikumpulkan tetap lengkap dan akurat. Kondisi ini tentu memakan waktu dalam proses pendataan,” ujar Cut.
Selain itu, ia juga mengaku pernah menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat saat proses pendataan berlangsung. Meski demikian, para petugas sensus tetap berupaya melakukan pendekatan secara persuasif agar masyarakat merasa nyaman dan memahami pentingnya pendataan.
“Tidak semua masyarakat langsung menerima petugas. Ada yang menolak atau merasa ragu untuk didata. Tapi kami tetap berusaha melakukan pendekatan secara kekeluargaan dan membangun komunikasi yang baik agar masyarakat bisa lebih jujur dan terbuka,” katanya.
Tantangan lainnya juga datang dari kondisi geografis Kota Sabang yang terdiri dari wilayah pegunungan dan pesisir. Menurut Cut, medan yang cukup sulit terkadang menjadi hambatan tersendiri bagi petugas saat menjangkau daerah pendataan. Tak hanya itu, keterbatasan jaringan internet di sejumlah wilayah terpencil juga menjadi kendala saat proses pengiriman data secara daring dilakukan oleh petugas di lapangan.
“Walaupun mendapatkan tantangan, kendala dan hambatan, tapi tidak menyurutkan semangat kami sebagai Mitra Statistik BPS Sabang dalam mendukung dan menyukseskan Sensus Ekonomi,” tambahnya.
Sementara itu, masyarakat di Pulau Weh Sabang juga menyambut positif pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Khairunnisa, salah seorang pelaku usaha kuliner di Sabang, mengaku, saat ini sebagian besar pemasarannya dilakukan melalui media sosial dan aplikasi pesan singkat.
“Sekarang banyak pelanggan memesan secara online. Kami berharap melalui sensus ini pemerintah bisa melihat perkembangan usaha kecil seperti kami dan memberi dukungan yang lebih baik,” katanya.
Para pelaku usaha saat ini, kata Khairunnisa, memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pasar luar daerah. Perkembangan teknologi membuka peluang baru bagi masyarakat di wilayah kepulauan untuk mengembangkan usaha tanpa terbatas jarak.
Dengan hadirnya pendataan ekonomi digital, Sensus Ekonomi 2026 diharapkan tidak hanya menjadi catatan statistik semata, tetapi juga mampu menggambarkan perubahan cara masyarakat bertahan, berkembang, dan beradaptasi di tengah kemajuan zaman. Data sensus juga diharapkan dapat membuka peluang pembangunan ekonomi yang lebih merata di wilayah kepulauan, kebutuhan pelaku usaha, hingga peluang investasi yang dapat dikembangkan di Sabang, untuk Indonesia Maju.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....