Ketahanan Keluarga Jadi Benteng Perlindungan Generasi Muda

  • 28 Agt 2026 13:15 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Penguatan ketahanan keluarga dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam melindungi anak dan remaja dari berbagai perilaku berisiko, termasuk penyalahgunaan narkoba, kekerasan seksual, pergaulan berisiko, serta penularan HIV.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, drg. Supriady.R. M.Kes., mengatakan keluarga harus menjadi lingkungan pertama dalam memberikan edukasi kesehatan, pendampingan, dan pengawasan terhadap anak.

“Yang pertama adalah keluarga. Menciptakan rumah itu adalah tempat yang aman, nyaman secara emosional kepada anak,” ujar drg.Supriady dalam Dialog Perempuan dan Anak RRI Banda Aceh, Senin 24 Agustus 2026.

Menurutnya, komunikasi antara orang tua dan anak perlu dibangun sejak dini. Anak harus mendapatkan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku berisiko, sehingga tidak hanya memperoleh informasi dari lingkungan pergaulan maupun media digital.

Ia menjelaskan, HIV dan LGBTQ merupakan dua hal yang berbeda. HIV merupakan infeksi yang disebabkan Human Immunodeficiency Virus, sedangkan LGBTQ berkaitan dengan identitas dan orientasi seksual. “LGBTQ dan HIV AIDS sebenarnya dua hal dengan dimensi yang berbeda. LGBTQ berkaitan dengan aspek psikologis, sosial, dan personal seseorang, sedangkan HIV merupakan masalah infeksi medis,” katanya.

drg.Supriady menjelaskan, penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang terkontaminasi, serta dari ibu dengan HIV kepada anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV. Virus HIV tidak menular melalui keringat, bersalaman, berpelukan, atau berada dalam satu ruangan dengan penderita.

Dari sisi psikologis dan pembinaan keluarga, Regina Fadilla, S.Psi, mengatakan anak membutuhkan rasa aman, kasih sayang, perhatian, dan komunikasi yang terbuka dari orang tua. “Orang tua itu harus mampu hadir bukan secara fisik saja, tapi hadir secara ruh, secara rohani di rumah,” ujar Regina.

Ia menilai kesibukan orang tua bekerja tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan waktu bersama anak. Menurutnya, anak tetap membutuhkan quality time, komunikasi, dan keteladanan dari orang tua. Sebagai orang tua agar tidak hanya mengejar prestasi akademik anak. Pendidikan moral dan spiritual perlu diberikan secara seimbang agar anak memiliki pegangan dalam menghadapi berbagai pengaruh lingkungan.

Karena itu, keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi anak. Orang tua juga diminta memperhatikan perubahan perilaku anak, termasuk ketika anak tiba-tiba menjadi murung, takut ditinggalkan, menolak kembali ke lingkungan sekolah atau asrama, maupun menunjukkan perubahan sikap yang tidak biasa.

Apabila anak mengalami persoalan atau melakukan kesalahan, pendekatan yang dilakukan sebaiknya tidak berupa penolakan atau kekerasan. Ia berharap keluarga dapat menjadi ruang aman sehingga anak berani menyampaikan persoalan yang dihadapi dan tidak mencari tempat perlindungan di lingkungan yang berpotensi memberikan pengaruh negatif.

“Kalau misalnya anak sudah terlanjur melakukan sesuatu, tetap itu adalah anak kita dan kita harus bertanggung jawab dunia akhirat. Harus lebih dirangkul, bukan makin dijauhi,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....