Menunda Pernikahan Bukan Menunda Kebahagiaan, tapi Investasi Masa Depan

  • 08 Agt 2026 01:36 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.Id, Sabang - Masa remaja adalah fase emas untuk mengeksplorasi potensi, mengejar pendidikan, dan merajut cita-cita. Namun, fenomena pernikahan dini masih kerap dijumpai di berbagai daerah. Alih-alih menjadi solusi instan bagi masalah ekonomi atau jalan pintas menuju kebahagiaan, menikah di usia terlalu muda justru sering membawa tantangan kompleks tersendiri.

Psikolog Puspaga Kota Banda Aceh, Lisdayani melihat bahwa menuda pernikahan bukanlah sebagai bentuk “menunda kebahagiaan”, melainkan sebuah bentuk investasi masa depan. “Menunda pernikahan hingga siap secara lahir, batin dan finansial bukan berarti “menunda kebahagiaan”, melainkan berarti ia sedang merencanakan atau mempersiapkan diri untuk kesejahteraan,” ujarnya dalam dialog “Perempuan dan Anak: Remaja Hebat Tanpa Nikah Cepat” bersama RRI Pro 1 Banda Aceh, Senin 8 Juni 2026.

Ia mengatakan bahwa menjadi remaja hebat itu bukan seberapa cepat seseorang memiliki pasangan atau menikah. “Melainkan sejauh mana ia mampu mempersiapkan secara matang mentalnya, emosional, pendidikan dan finansial agar mampu membangun masa depan yang berkualitas,” lanjutnya.

Selain itu, ada tiga hal yang harus dipahami mengapa pernikahan dini beresiko tinggi, yaitu:

  • Kesehatan Reproduksi dan Stunting, secara biologis, usia di bawah 19 tahun, organ reproduksi remaja Wanita belum sepenuhnya siap. Risiko komplikasi kehamilan hingga ancaman stunting pada anak menjadi tinggi.
  • Kesehatan Mental dan Emosional, kematangan emosi remaja yang belum stabil rentan memicu stress, konflik rumah tangga, hingga penyesalan saat ekspektasi tidak sesuai kenyataan.
  • Terhentinya Pendidikan dan Cita-cita, pernikahan dini kerap memaksa remaja putus sekolah dan kehilangan kesempatan emas untuk mengeksplorasi potensi diri serta mengejar karir.

Pernikahan dini sering dipicu oleh dorongan ekonomi, tekanan lingkungan, seperti ketakutan dianggap tiak laku, hingga dorongan emosi sesaat. Untuk mengatasinya, peran orang tua sangat penting, perlunya pola asuh yang komunikatis serta mendukung pendidikan, ketimbang mendesak mereka untuk menikah cepat.

Sementara itu, gerakan edukasi sebaya seperti yang dilakukan oleh Forum Anak melalui program Saweu Sikula dan kampanye digital efektif membantu remaja memahami bahwa pengembangan kualitas diri adalah kunci utama dalam menghadaoi tantangan hidup, bukan pernikahan di usia dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....