Langkah Berat Korban Kekerasan Mencari Keadilan

  • 10 Apr 2026 15:22 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Kekerasan terhadap perempuan dan anak seringkali menjadi fenomena gunung es. Banyak yang terlihat di permukaan, namun jauh lebih banyak yang terpendam. Para korban kerap bertarung dalam kesunyian, karena dikuasai rasa takut, ancaman, dan stigma sosial.

Pendamping/Konselor Psikologi UPTD PPA Kota Banda Aceh, Eva Mulia Sara, S.Psi, mengatakan bahwa bagi seorang korban, langkah pertama untuk mencari bantuan adalah langkah yang paling berat. Mayoritas korban yang melakukan pengaduan datang dalam kondisi hancur secara mental.

“Pada umumnya mereka datang dengan rasa takut. Takut kepada pelaku, rasa takut atas ceritanya yang mungkin tidak akan dipercaya nantinya, timbul rasa was was. Ada juga yang datang dengan menangis dan terdiam, bahkan ada juga yang menyalahkan dirinya sendiri,” ujarnya dalam dialog bersama RRI Pro 1 Banda Aceh, Senin 30 Maret 2026.

Tekanan ini semakin diperparah oleh stigma masyarakat yang sering kali justru menyudutkan korban, misalnya dengan mempertanyakan cara berpakaian atau alasan mengapa justru melapor sekarang. “Oleh karena itu, tugas utama pendamping bukan langsung menginterogasi, melainkan membangun “rasa aman” agar korban merasa diterima dan didengar tanpa dihakimi,” lanjutnya.

Namun, dalam mendampingi korban kekerasan dan pelecehan, juga menemui tantangannya tersendiri. Salah satu kendals terbesar adalah konsistensi. Banyak korban yang menggebu-gebu di awal, namun mundur di tengah jalan karena kelelahan atau rasa kasihan terhadap pelaku, terutama dalam kasus rumah tangga.

Kemudian, pada beberapa kasus di Aceh, upaya penyelasaian dilakukan pada tingkat gampong (desa). Namun, perlu diingat bahwa jika musyawarah tidak mencapai keadilan bagi korban, proses hukum harus tetap berjalan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....