Petani Milenial Aceh: Teknologi dan Promosi Kunci Majukan Pertanian
- 11 Jun 2026 00:26 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Ketua Umum Petani Milenial Aceh, Benni Baihaqi, S.P., menilai pemanfaatan teknologi pertanian dan promosi yang masif menjadi faktor penting dalam mendorong sektor pertanian Aceh naik kelas, lebih modern, serta mampu menarik minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.
Dalam dialog RRI Banda Aceh, Selasa, 9 Juni 2026, Benni mengatakan tantangan yang dihadapi petani saat ini tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan modal. Menurutnya, pola pikir yang belum adaptif terhadap perubahan dan minimnya pemanfaatan teknologi juga menjadi hambatan dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
"Selama ini banyak petani kita hanya bertahan hidup, bukan berkembang. Padahal dengan teknologi dan pengetahuan yang tepat, hasil produksi bisa meningkat dan kesejahteraan petani juga ikut naik," ujarnya.
Benni menjelaskan, penerapan teknologi pertanian modern atau smart farming di Aceh sebenarnya mulai menunjukkan perkembangan. Namun, pemanfaatannya masih terbatas dan belum menjangkau sebagian besar petani swadaya. Kondisi tersebut, kata dia, dipengaruhi oleh kurangnya edukasi serta promosi mengenai manfaat dan kemudahan penggunaan teknologi pertanian.
Ia menilai persepsi masyarakat terhadap profesi petani juga perlu diubah. Selama ini, petani masih kerap dipandang sebagai pekerjaan yang identik dengan aktivitas berat, kotor, dan kurang menjanjikan. Padahal, perkembangan teknologi telah menghadirkan sistem pertanian yang lebih efisien, praktis, dan berbasis inovasi.
"Banyak masyarakat masih berpikir petani itu identik dengan pekerjaan kotor dan berat. Padahal sekarang pertanian bisa dilakukan dengan teknologi yang lebih praktis, efisien, dan modern," katanya.
Sebagai contoh, Benni menyebut penggunaan sistem hidroponik dan irigasi tetes yang mampu menghemat penggunaan air sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman. Bahkan, sejumlah teknologi pertanian saat ini telah memungkinkan proses budidaya dikendalikan dari jarak jauh melalui telepon pintar.
"Di Amanah Ladong misalnya, kami sudah menggunakan smart farming. Penyiraman dan pengabutan tanaman bisa dikontrol melalui ponsel. Ini membuktikan bahwa pertanian sudah berkembang mengikuti kemajuan teknologi," ujarnya.
Selain pemanfaatan teknologi, Benni menilai media sosial memiliki peran strategis dalam membangun citra baru sektor pertanian. Menurutnya, proses budidaya, panen, hingga pemasaran produk dapat dikemas secara kreatif melalui platform digital sehingga lebih dekat dengan generasi muda dan mampu menumbuhkan minat mereka terhadap dunia pertanian.
Ia juga mengidentifikasi sejumlah komoditas unggulan Aceh yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi, di antaranya kopi Gayo, nilam, kakao, serta komoditas hortikultura seperti melon dan sayuran hidroponik. Upaya pengolahan hasil panen dinilai penting agar petani memperoleh nilai tambah yang lebih besar.
"Kalau hasil pertanian hanya dijual dalam bentuk mentah, nilai tambahnya dinikmati pihak lain. Karena itu petani perlu belajar mengolah hasil panen agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi," katanya.
Pada kesempatan itu, Benni menegaskan bahwa transformasi pertanian tidak dapat dilakukan oleh petani semata. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan kelompok tani untuk menghadirkan inovasi, pendampingan, serta akses pasar yang lebih luas.
"Pemerintah, akademisi, dan petani harus saling bersinergi. Tanpa kolaborasi, berbagai tantangan di sektor pertanian akan sulit diselesaikan. Tetapi jika berjalan bersama, saya yakin pertanian Aceh bisa berkembang lebih maju," ujarnya.
Benni berharap, melalui pemanfaatan teknologi, promosi yang berkelanjutan, serta penguatan kolaborasi lintas sektor, pertanian Aceh dapat bertransformasi menjadi sektor yang modern, berdaya saing, dan menjadi pilihan profesi yang menjanjikan bagi generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....