Kota Tua Penagi, Jejak Harmoni Pesisir

  • 07 Jan 2026 15:06 WIB
  •  Ranai

KBRN, Natuna: Kota Tua Penagi menyimpan jejak sejarah panjang sebagai kawasan pesisir yang tumbuh dari denyut perdagangan laut. Hari ini, Penagi tetap berdiri dengan wajah sederhana, memadukan kenangan tempo dulu dengan realitas kehidupan masa kini yang sarat nilai toleransi dan kearifan lokal.

Kota Tua Penagi dikenal sebagai salah satu kawasan awal berkembangnya permukiman dan aktivitas perdagangan di wilayah pesisir. Pada masa lalu, Penagi menjadi titik singgah penting bagi kapal-kapal dagang yang membawa berbagai kebutuhan pokok masyarakat. Aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan menjadi pemandangan sehari-hari, menghidupkan ekonomi warga yang sebagian besar menggantungkan hidup dari laut dan perdagangan.

Jejak masa lalu itu masih terasa hingga kini. Saat berkunjung ke Kota Tua Penagi, saya tertarik menyusuri kawasan ini yang identik dengan hunian rumah di atas laut, berdiri rapat mengikuti garis pantai. Rumah-rumah kayu tersebut menjadi saksi bagaimana masyarakat pesisir menyesuaikan diri dengan alam dan laut sebagai sumber kehidupan utama.

Keunikan Penagi juga tercermin dari berdampingannya vihara dan masjid dalam satu kawasan. Pemandangan ini menjadi simbol nyata toleransi umat beragama yang telah mengakar sejak lama. Warga hidup berdampingan tanpa sekat, saling menghormati keyakinan masing-masing, dan menjaga harmoni dalam kehidupan sehari-hari.

Di sudut-sudut jalan Kota Tua Penagi, aktivitas pelabuhan masih terus berjalan. Terlihat beberapa kapal barang tengah menurunkan muatan, berdampingan dengan kapal-kapal kecil milik nelayan yang bersandar tenang di Pelabuhan Penagi. Meski tidak seramai dahulu, denyut kehidupan pesisir masih terasa.

Sementara itu, suasana kampung tampak lebih lengang dibandingkan masa kejayaannya. Beberapa warga terlihat duduk bermain catur, menghabiskan waktu di sela aktivitas harian. Ada pula pemilik kedai yang setia menjaga lapaknya, meski pembeli tak seramai dulu. Kesunyian ini justru menghadirkan nuansa nostalgia, seolah membawa pengunjung kembali ke masa ketika waktu berjalan lebih lambat.

Jika dibandingkan tempo dulu, Kota Tua Penagi kini tak lagi menjadi pusat perdagangan utama. Modernisasi dan pergeseran aktivitas ekonomi membuat kawasan ini lebih dikenal sebagai permukiman dan pelabuhan rakyat. Namun, nilai sejarah, budaya, dan toleransi yang hidup di dalamnya tetap terjaga.

Kota Tua Penagi bukan sekadar kawasan tua yang ditinggalkan zaman. Ia adalah ruang hidup yang merekam perjalanan sejarah, keberagaman, dan keteguhan masyarakat pesisir. Dengan penataan yang tepat, kawasan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata sejarah dan budaya, tanpa kehilangan jati diri dan nilai harmoni yang telah lama menjadi napas kehidupan warganya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....