Masjid Dompak di Pelukan Laut dan Iman
- 04 Jan 2026 20:32 WIB
- Ranai
KBRN,Natuna: Tanjungpinang tak pernah kehabisan cerita, terutama tentang wisata religi yang menyatu dengan keindahan alam. Di Pulau Dompak, berdiri sebuah masjid raya yang bukan hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menawarkan ketenangan spiritual dengan panorama laut lepas namanya Masjid Raya Nur Ilahi. Tanjungpinang dikenal memiliki beragam destinasi wisata, baik alam maupun religi. Kali ini, penulis mengajak pembaca berpetualang ke salah satu wisata religi yang menjadi ikon ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Kesempatan tersebut terasa istimewa karena penulis tidak hanya berkunjung, tetapi juga melaksanakan ibadah Salat Jumat di masjid tersebut.

Masjid Raya Nur Ilahi terletak di Pulau Dompak, sebuah wilayah yang terpisah dari pusat Kota Tanjungpinang dan dihubungkan oleh Jembatan Sultan Mahmud Riayat Syah atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Jembatan Dompak. Pulau ini merupakan pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau, tempat berdirinya Kantor Gubernur dan berbagai instansi provinsi.
Dari luar, Masjid Raya Nur Ilahi tampak sederhana. Beberapa bagian cat dinding terlihat mulai terkelupas, dan sejumlah sudut bangunan tampak jarang tersentuh perawatan. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan sejumlah masjid besar di daerah kepulauan yang letaknya jauh dari permukiman warga. Akibatnya, aktivitas jamaah harian tidak seramai masjid-masjid di lingkungan pemukiman. Namun demikian, pada hari Jumat dan masa libur, masjid ini tetap dipadati jamaah serta wisatawan religi.
Daya tarik utama masjid ini tidak hanya terletak pada fungsinya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pada arsitektur dan karakter alamnya. Dari pelataran masjid, pengunjung dapat menikmati pemandangan laut lepas serta bentangan Jembatan Dompak yang membelah perairan. Suasana ini menghadirkan ketenangan yang mendalam dan memperkuat nuansa religius bagi setiap pengunjung.
Secara arsitektural, Masjid Raya Nur Ilahi mengadopsi perpaduan gaya Islam modern dengan sentuhan budaya Melayu. Saat memasuki ruang utama masjid, perhatian tertuju pada mimbar yang tampil megah dengan dominasi warna emas serta hiasan kaligrafi yang estetik. Di salah satu sisi saf, terlihat sofa panjang berwarna merah yang membujur ke samping. Keberadaan sofa ini diduga berfungsi sebagai tempat duduk tamu kehormatan, ulama, atau digunakan saat acara keagamaan tertentu.

Menariknya, sofa tersebut juga memberi kesan rapi, nyaman, dan berwibawa. Jika dikaitkan dengan budaya Melayu, elemen ini mencerminkan etika menerima tamu, ruang untuk bersantai sejenak, serta berdiskusi ringan. Secara visual, sofa tersebut turut memperkaya estetika ruang dan berfungsi sebagai pembatas visual dengan sentuhan dekorasi yang sederhana namun elegan.
Usai Salat Jumat, para marbut masjid menyediakan makanan ringan dan minuman gratis bagi jamaah. Sajian ini diperuntukkan bagi jamaah yang datang dari jauh maupun yang singgah untuk beristirahat. Selama berada di lokasi, penulis merasakan keramahan para marbut yang sigap mengarahkan jamaah, mulai dari pengaturan parkir, tempat wudu, penitipan sandal, hingga pembagian hidangan Jumat berkah.
Penulis berharap, ke depan Masjid Raya Nur Ilahi mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah setempat, terutama dalam hal perawatan rutin bangunan agar tidak termakan usia. Penambahan taman masjid dan ruang bermain anak juga dinilai dapat memperkuat kesan sejuk, ramah, dan inklusif bagi para pengunjung. Dengan demikian, masjid ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang spiritual dan wisata religi yang semakin hidup. Semoga jamaah Masjid Raya Nur Ilahi kian bertambah dan keberkahannya terus mengalir. Aamiin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....