Wajah Manusia Ditengah Mesin: Potret Faktual Fenomena AI Terkini
- 14 Agt 2026 23:24 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna- Peralihan dari Industri 4.0 menuju Society 5.0 tidak lagi menjadi wacana futuristik yang jauh dari keseharian. Dalam perkembaangannya Ia hadir dalam bentuk yang sangat konkret.
Lagu yang diputar jutaan orang di media sosial, ilustrasi yang dibagikan ulang ribuan kali, hingga percakapan larut malam yang dilakukan seseorang dengan aplikasi di layar ponselnya. Artikel ini memaparkan tiga fenomena aktual dan viral sepanjang akhir 2025, hingga pertengahan 2026 yang secara langsung bersinggungan dengan wilayah kajian Estetika Humanisme, yaitu seni, kreativitas, dan relasi manusia.
1. Musik Buatan Kecerdasan Buatan (AI) yang Menembus Tangga Lagu
Sepanjang 2026, sejumlah lagu berbahasa Indonesia yang viral di platform digital ternyata merupakan hasil komposisi kecerdasan buatan, bukan karya musisi manusia sepenuhnya. Kualitas produksinya menyerupai rekaman studio profesional, lengkap dengan warna vokal dan artikulasi emosi yang terdengar organik, sehingga banyak pendengar tidak menyadari bahwa suara yang mereka nikmati bukan berasal dari penyanyi sungguhan.
Fenomena ini membuka diskusi mengenai batas antara karya seni yang lahir dari pengalaman batin manusia dan karya yang dihasilkan lewat komputasi statistik. Di satu sisi, teknologi ini mendemokratisasi produksi musik bagi orang yang tidak memiliki keterampilan teknis mendalam, di sisi lain, ia memunculkan persoalan hak cipta dan orisinalitas yang hingga kini belum memiliki jawaban hukum yang mapan, baik secara global maupun di Indonesia.
2. Perdebatan Seni Visual: Gaya Ghibli, Hak Cipta, dan “Human-Led AI”
Tren menghasilkan gambar bergaya khas Studio Ghibli menggunakan AI generator, sempat membanjiri media sosial dan memicu kontroversi lintas negara. Di Jepang, sutradara Hayao Miyazaki dikenal luas menyuarakan sikap kerasnya terhadap seni yang dihasilkan AI, sementara di Indonesia sejumlah ilustrator mengeluhkan klien yang beralih ke AI karena dianggap lebih murah dan cepat.
Pada saat yang sama, ajang Tribeca Film Festival 2026 justru menampilkan tren berlawanan yang disebut media The Verge sebagai “human-led AI” — model produksi di mana sutradara dan tim kreatif tetap memegang kendali penuh, membangun ribuan gambar orisinal dan bahasa visual mereka sendiri sebelum melatih model AI dengan data tersebut. Film “Dreams of Violets”, yang sempat disebut sebagai film pertama hasil AI yang tayang di festival besar, pada praktiknya tetap membutuhkan peran sutradara dan tim kreatif manusia secara substansial.
Pergeseran cara pandang ini menunjukkan bahwa AI mulai diposisikan bukan sebagai “seniman” yang bersaing dengan manusia, melainkan sebagai alat baru yang setara dengan kamera digital atau perangkat lunak penyunting yang sudah lebih dahulu diterima dalam sejarah seni.
3. AI Companion: Ketika Mesin Menjadi Tempat Curhat dan “Pasangan”
Fenomena ketiga berkaitan langsung dengan relasi antarmanusia itu sendiri. Studi Universitas Drexel tahun 2026 mencatat remaja pengguna aplikasi AI companion dapat menghabiskan lebih dari lima belas jam sehari berinteraksi dengan chatbot tersebut, dengan dampak pada pola tidur dan performa akademik mereka.
Riset Common Sense Media pada 2025 turut menemukan bahwa sekitar sepertiga remaja lebih memilih berbicara kepada AI dibandingkan manusia saat menghadapi masalah serius. Laporan Norton Insight Report awal 2026 bahkan mencatat bahwa sebagian besar responden yang rutin menggunakan aplikasi kencan pernah mempertimbangkan menjalin hubungan romantis dengan chatbot AI.
Psikolog memperingatkan bahwa ketergantungan yang meningkat pada AI untuk dukungan emosional dapat menjadi indikasi kesepian yang justru semakin parah di tengah dunia yang secara teknis semakin terhubung. Sebaliknya, sejumlah kalangan berpendapat penggunaan AI companion secara moderat dapat membantu individu yang kesulitan mengakses dukungan emosional manusia secara langsung.
(Sudut Pandang : Eri Sigit Wahyudi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....