Jejak Piala Dunia :  Rusia 2018, Perancis Angkat Trofi, Kroasia Rebut Hati Dunia

  • 10 Jun 2026 12:16 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna – Moskow, 15 Juli 2018 di Stadion Luzhniki, jutaan pasang mata menyaksikan sebuah kisah yang nyaris menjadi dongeng terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Di satu sisi berdiri Perancis, tim yang bertabur dengan bintang muda seperti Kyllian Mappe, Paul Pogba dan Antonie Griezmann.

Disisi lain ada Kroasia, negara kecil dengan penduduk sekitar empat juta jiwa yang sedang menantang takdir. Ditengah lapangan skuad Kroasia berdiri seorang jenderal bernama Luka Modric.

Perjalanan Kroasia menuju final Piala Dunia 2018 tidak mudah. Mereka harus melewati tiga pertandingan di fase gugur yang menguras tenaga. Wikipedia mencatat sebanyak dua kali menang melalui adu finalti melawan Denmark dan tuan Rumah Rusia dan satu kali babak tambahan di semifinal melawan Inggris.

Modric menjadi denyut nadi permainan Kroasia. Dengan visi, umpan dan kepemimpinannya, ia membawa negaranya melampaui pencapaian generasi emas 1998 yang hanya mampu finish di posisi ketiga.

Saat final dimulai, Kroasia justru tampil berani. Mereka tidak gentar menghadapi Perancis yang diperkuat banyak pemain muda berbakat dan salah satu negara yang sudah pernah meraih trofi Piala dunia yakni di tahun 1998.

Babak final tersebut kiranya mentakdirkan pengalaman dan efektivitas Perancis yang akhirnya mampu meredam ambisi Kroasia sekaligus merebut tahta kedua Piala Dunia. Les Blues menang 4 – 2 lewat suguhan pertandingan seru dan menarik untuk di saksikan dalam sejarah final Piala dunia.

Bagi Kroasia, kekalahan itu memang menyakitkan. Namun dunia melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekedar hasil akhir. Kroasia telah membuktikan bahwa ukuran negara tidak menentukan besarnya mimpi.

Meski gagal mengangkat Trofi, Kroasia tetap pulang dengan kepala tegak. Jenderal lapangan tengah Kroasia Luka Modric menerima penghargaan Bola Emas sebagai pemain terbaik turnamen Piala Dunia 2018. Sebuah penghomatan bagi sosok yang menjadi simbol perjuangan Kroasia sepanjang turnamen.

Seusai final, Modric menyampaikan kalimat yang menggambarkan perasaan seluruh rakyat Kroasia saat itu.

“Kami sedih karena kalah, tetapi kami bangga atas apa yang telah kami capai” Ujarnya sebagaimana dikutip Kompas.com.

Sementara itu ditengah perayaan pemain Perancis, ada rasa hormat yang besar kepada lawan mereka. Didier Deschamps sang arsitek Perancis mengakui bahwa Kroasia memberikan perlawanan yang luar biasa.

Sementara itu Bintang muda perancis Kylian Mbappe yang mencetak gol difinal pada usia 19 tahun memilih merayakan kemenangan dengan penuh penghormatan kepada lawannya.

“Kami sangat Bahagia menjadi juara dunia, tapi saya juga ingin memberi selamat kepada Kroasia atas perjalanan luar biasa mereka” Ucap Mbappe . Menurut pemberitaan CNN Indonesia , Mbappe menilai Kroasia tetap bisa mengontrol pertandingan dengan sangat baik meski dalam kondisi kelelahan fisik.

Di Moskow, Perancis pulang dengan Piala Emas, namun Kroasia pulang dengan sesuatu yang tidak kalah berharga yakni rasa hormat dunia. Dan dalam saejarah sepakbola, kedua akan selalu dikenang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....