Jejak Piala Dunia – AS 1994 : Air Mata Baggio, Mahkota Keempat Brasil
- 20 Mei 2026 15:56 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna – Musim panas 1994 di Pasadena, Amerika Serikat menjadi panggung sebuah final yang berbeda dalam sejarah Piala Dunia. Puluhan ribu penonton memadati Stadion Rose Bowl untuk menyaksikan duel 2 raksasa sepakbola, Brasil dan Italia.
Semua menunggu gol dan semua menantikan datangnya keajaiban. Namun yang hadir justru ketegangan panjang tanpa adanya gol dan suara kemenangan selama 90 menit pertandingan normal.
Babak tambahan selama 30 menit juga masih belum memperlihatkan bola bersarang ke gawang. Permainan yang disuguhkan selama120 menit membuat dunia masih harus menunggu siapa yang berhasil mengangkat trofi Piala dunia kali ini.
Wikipedia mencatat, di babak final inilah untuk pertamakalinya dalam sejarah Piala dunia harus ditentukan lewat adu finalti. Di tengah tekanan itu, dunia memandang satu sosok dengan penampilan nyentrik , sang bintang Italia yakni Roberto Baggio.
Sebelumnya Italia ke final, kehadiran Baggio bak penyelamat bagi Tim Azzuri. Gol golnya membawa Italia lolos dari situasi sulit hingga negara itu melangkah ke final.
Besarnya peran pemain dengan rambut kucir ekor kuda ini seperti membawa Italia sendirian ke puncak. Tetapi dalam sepakbola memang terkadang kejam pada pahlawannya sendiri.
Saat Baggio menjadi penendang akhir Italia dan Brasil diambang juara, aura bintang yang dimilikinya langsung redup. Tendangan keras yang diawali dengan ancang-ancang ternyata membuat bola melayang di atas mistar gawang.
Seketika itu suara penonton meledak, stadion bergemuruh. Baggio secara tragis menjadi penyebab gagalnya Italia menghadang ambisi Brasil merebut mahkota juara.
Air mata Baggio tumpah, dan seketika Italia juga berduka. Disaat saat genting di final yang sangat menentukan, ia mengecewakan harapan rakyat Italia dan penggemarnya.
Dalam pengakuannya yang cukup emosional seperti disadur AI, usai piala dunia Roberto Baggio mengatakan “It still hurt” . Luka itu memang masih terasa sakit dirasakan Baggio dan perihnya juga menjadi milik Italia.
Pada sisi yang lain, Romario, Dunga dan kawan kawan serta rakyat Brasil meluapkan euphoria mereka setelah duel final yang sangat melelahkan . Mereka mengulang sukses Pele dan kawan kawan merebut trofi Piala dunia untuk keempat kalinya .
Piala dunia 1994 akhirnya dikenang bukan karena pesta gol, melainkan karena drama final tanpa gol, tetapi penuh emosi. Di tengah malam itu tanggal 17 Juli 1994, dari stadion Rose Bowl, Pasadena, Amerika Serikat dunia menyaksikan tangisan salah satu legenda sepakbola.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....