Jejak Piala Dunia – Italia 1990, Bersinarnya Para Kiper dan Bangkitnya “Sang Kaisar"

  • 19 Mei 2026 16:21 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna – Turnamen Piala Dunia Dunia 1990 di Italia dikenal sebagai ajang besar yang miskin gol . Banyaknya pertandingan yang membosankan, menyebabkan Piala Dunia ini disebut sebagai ajang pembunuh kreativitas.

Data FIFA melalui Wikipedia mencatat rata rata jumlah gol yang tercipta dari seluruh pertandingan yang digelar hanya 2,21 gol. Dari 52 pertandingan yang digelar hanya menciptakan 115 gol dan masuk dalam Guinness World record sebagai yang terendah dalam Sejarah Piala dunia .

Banyak tim tampil dengan lebih mengutamakan pertahanan daripada menyerang. Sehingga tidak heran di turnamen ini kemenangan terutama di fase gugur juga lebih banyak ditentukan melalui adu finalti.

Namun dibalik kritikan itu, turnamen ini justru melahirkan kisah yang unik yakni sebagai panggungnya para kiper. Disaat para striker kesulitan mencetak gol, para kiper tampil seperti tembok hidup dengan penampilan yang berkharisma.

Italia memiliki Walter Zenga, sosok kiper yang tenang dan nyaris gawangnya tidak tersentuh bola. Stadion stadion tempat Italia bertanding selalu bergemuruh setiap kali Zenga melakukan penyelamatan. Ia saat itu bisa disebut sebagai simbol harapan tuan rumah.

Sementara Argentina menemukan pahlawan tak terduga dalam diri kipernya, Sergi Goychochea. Awalnya Goychochea buka pilihan utama, namun cedera rekannya membuka jalan menuju keabadian. Dalam adu finalti saat Argentina bertemu Yugoslavia dan Italia , Goycochea tampil sebagai pahlawan dan mimpi buruk bagi lawan.

Italia menangis di semifinal, kalah adu finalti dari Argentina yang melenggang ke final. Dan dunia mulai percaya bahwa sarung tangan kiper bisa lebih menentukan daripada sepatu striker.

Namun ditengah sorotan para kiper itu, perlahan bangkit pula seorang ”kaisar” dari Jerman Barat, Franz Beckenbeuer. Sang Kaisar datang ke Italia kali ini dengan status sebagai pelatih bagi tim panser Jerman.

Dibawah komandonya, Jerman Barat bermain rapi, disiplin dan sangat matang. Mungkin tidak seindah Brasil 1970 dan tidak seajaib Argentina 1986, tetapi penampilan Jerman Barat sangat efektif.

Empat tahun sebelumnya di Piala dunia 1986 , Jerman Barat dipaksa bertekuk lutut oleh Maradona dan kawan kawan. Kini di Roma kesempatan balas dendam itu datang.

Final 1990 berlangsung keras dan tegang, Argentina bertahan mati matian. Jerman terus menekan, hingga akhirnya finalti Andreas Brehme memecah kebuntuan dan memastikan tampil sebagai juara dunia untuk ketiga kalinya setelah di Swiss 1954 dan di kandang sendiri tahun 1974.

Di pinggir lapangan, Beckenbeuer tampak tenang dengan tampilan hampir dingin. Tapi disitulah letak kebesaran sang Kaisar. Di piala dunia 1990 ia sukses mengangkat trofi sebagai pelatih .

Italia 1990 barangkali memang bukan turnamen Piala dunia yang indah dan mengasyikan untuk ditonton. Tetapi ajang ini meninggalkan warisan besar yakni tentang kisah heroik para kiper, tentang sepakbola yang keras dan penuh taktik serta tentang bangkitnya kembali sang Kaisar menuju tahta Piala dunia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....