Jejak Piala Dunia : Jerbar 1974, 2 Lagenda Beradu di Final
- 15 Mei 2026 21:03 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Muenchen, 7 Juli 1974 saat berlangsungnya final Piala Dunia antara tuan rumah Jerman Barat melawan Belanda. Saat itu peluit wasit belum berbunyi, tapi pertempuran seakan sudah dimulai.
Di satu sisi berdiri Johan Cruyff, sang maestro sepakbola dari Belanda dengan rambut gondrongnya yang membuat bek lawan sering jatuh bangun. Sementara di sisi yang lain ada Franz Beckenbauer, sang “kaiser” dingin dari Jerman Barat yang gerakannya tenang, taktis dan selalu dapat mematikan gerak lawan.
Keduanya bukan hanya sekedar bertindak sebagai kapten tim saat itu. Namun mereka adalah dua filosofi sepakbola yang sedang beradu memperebutkan Trofi Piala dunia di rumput stadion Olympiastadion, Muenchen.
Belanda tampil dengan membawa “Total Football” yang indah dan revolusioner. Sedangkan Jerman Barat datang dengan “Panser” yang efisien dan tak kenal ampun.
Pertandingan final bahkan dimulai dengan kejutan besar . Kurang dari 2 menit setelah peluit kick off berbunyi, Belanda sudah unggul melalui tendangan finalti Johan Nesskens, setelah dijatuhkannya Cruyff oleh bek Jerman Barat.
Sumber Wikipedia mencatat, Gol ini menjadi rekor tercepat dalam sejarah pertandingan final Piala Dunia hingga saat ini. Jutaan mata penonton terkesima, Belanda bersorak, pendukung Jerman seolah tak percaya.
Menariknya para pemain Jerman Barat saat itu belum ada satupun yang sempat menyentuh bola. Namun disinilah mental juara para pemain Jerman terlihat saat tertinggal 0-1 dari Belanda.
Dibawah komando sang kapten, Franz Beckenbeuer, Jerbar mulai menyusun pola serangan dengan rapi dan terukur . Seperti sebuah orkestra , irama serangan tim panser Jerbar mampu beberapa kali menggetarkan area pertahanan Belanda.
Memasuki menit ke 25, gantian Jerman mendapat hadiah finalti yang berhasil diselesaikan oleh Paul Breitner hingga mengubah kedudukan menjadi 1-1. Sebelum babak pertama selesai, si ”bomber” Jerbar Gerd Muller mengejutkan penonton lewat tendangan geledeknya ke gawang Belanda di menit ke 43.
Jerman yang sudah unggul, semakin bermain lebih percaya diri di depan publiknya sendiri. Keunggulan 2-1 bertahan hingga peluit akhir berbunyi dan Tim Panser Jerman Barat kembali menjadi juara untuk kedua kalinya setelah yang pertama direbut pada tahun 1954 di Swiss.
Stadion Olympiastadion meledak, Jerman berpesta pora dengan euphoria yang seakan tidak berhenti. Di lain pihak Cruyff dan kawan kawan tertunduk lemas, tidak ada air mata, hanya tatapan kosong.
Piala Dunia 1974 memang dimenangkan oleh Jerman, Namun Belanda juga mendapat banyak tempat di hati masyarakat dunia saat itu dengan permainan total footbalnya. Sang "Maestro" Johan Cruyff serta sang "Keiser" Franz Beckenbeur meskipun berada di dua kubu berbeda , masing masing mendapat tempat tersendiri dihati para idolanya.
Final Piala dunia 1974 memang bukan cuma soal siapa yang mengangkat trofi. Pertemuan antara Tim “oranye” Belanda melawan Tim “Panser” Jerman Barat ibarat duel antara seni dan mesin yang selalu asyik untuk kembali diceritakan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....