Donor Darah, Benarkah Bisa Menggairahkan Tubuh?

  • 29 Agt 2026 12:54 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Donor darah selama ini lebih dikenal sebagai kegiatan kemanusiaan untuk membantu orang yang membutuhkan transfusi. Namun, ternyata manfaat donor darah tidak hanya dirasakan oleh penerima darah. Tubuh pendonor juga mengalami proses penyesuaian setelah sebagian darah dikeluarkan. Karena itulah, donor darah sering dianggap dapat “menggairahkan” atau merangsang tubuh untuk bekerja kembali membentuk sel-sel darah baru.

Ketika seseorang mendonorkan darah, tubuh kehilangan sebagian volume darah dan sel darah merah. Palang Merah Indonesia (PMI) menjelaskan bahwa volume darah yang hilang akan digantikan tubuh dalam waktu sekitar 48 jam, sedangkan sel darah merah yang hilang membutuhkan waktu sekitar empat hingga delapan minggu untuk digantikan dengan sel-sel darah merah baru.

Proses tersebut merupakan bagian dari mekanisme alami tubuh. Setelah donor, sumsum tulang akan memproduksi sel darah merah baru untuk menggantikan sel yang telah didonorkan. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa proses regenerasi ini membuat tubuh kembali memenuhi kebutuhan sel darah merah dan hemoglobin yang diperlukan untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Inilah yang kemudian membuat donor darah sering dikaitkan dengan istilah “menggairahkan tubuh”. Bukan berarti donor darah secara langsung membuat seseorang menjadi lebih berenergi, tetapi tubuh memang melakukan pekerjaan tambahan untuk memulihkan darah yang telah berkurang.

Selain proses regenerasi sel darah, donor darah juga memberikan kesempatan kepada seseorang untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa sebelum donor, calon pendonor akan menjalani pemeriksaan seperti tekanan darah dan kadar hemoglobin. Pemeriksaan darah juga dapat membantu mendeteksi beberapa penyakit menular tertentu sesuai prosedur pelayanan donor darah.

Manfaat lainnya adalah dari sisi psikologis. Menurut Kementerian Kesehatan, donor darah dapat memberikan dampak positif terhadap kondisi mental karena seseorang merasa telah membantu orang lain. WHO juga menekankan bahwa donor darah merupakan bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap sesama karena darah yang didonorkan sangat dibutuhkan untuk pasien kecelakaan, operasi, komplikasi persalinan, anemia berat, kanker, dan berbagai kondisi lainnya.

Namun, donor darah bukan berarti semakin sering dilakukan akan semakin sehat. Tubuh tetap membutuhkan waktu untuk mengembalikan sel darah dan cadangan zat besi. WHO memperingatkan bahwa donor berulang dapat menyebabkan berkurangnya cadangan zat besi, sehingga pemeriksaan hemoglobin dan penentuan kelayakan donor menjadi penting untuk melindungi kesehatan pendonor.

Karena itu, sebelum mendonorkan darah, pastikan tubuh dalam kondisi sehat, cukup tidur, makan dan minum dengan baik, serta memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh unit donor darah. PMI, misalnya, mencantumkan persyaratan seperti kondisi kesehatan yang baik, berat badan minimal 45 kilogram, serta kadar hemoglobin yang memenuhi batas yang ditentukan.

Jadi, apakah donor darah bisa “menggairahkan tubuh”? Dalam arti merangsang tubuh melakukan regenerasi darah, jawabannya ya. Setelah darah didonorkan, tubuh secara alami bekerja untuk menggantikan sel darah yang hilang. Tetapi donor darah bukanlah cara instan untuk mendapatkan energi atau mengobati penyakit.

Pada akhirnya, donor darah memberikan dua manfaat sekaligus: membantu orang lain yang membutuhkan dan memberi kesempatan bagi tubuh untuk menjalankan proses regenerasi darah secara alami. Setetes darah yang kita berikan mungkin sederhana bagi kita, tetapi bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....