Realita Pahit Residen di Indonesia
- 03 Jun 2026 15:04 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Pendidikan dokter spesialis atau residensi di Indonesia menyimpan sisi gelap yang jarang diketahui masyarakat umum. Dalam obrolan bersama Abdel Achrian di Podcast Wawancanda, dr. Saga Sabara seorang dokter spesialis jantung dan juga seorang komika mengungkapkan bahwa para dokter residen harus berjibaku dengan beban kerja tinggi tanpa menerima imbalan materi sepeser pun.
Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang unik dalam hal manajemen tenaga kesehatan. Di hampir seluruh negara maju, residen dianggap sebagai pekerja medis yang sedang menempuh pendidikan sehingga mereka tetap berhak mendapatkan gaji layak.
Beban kerja yang ditanggung residen seringkali melebihi batas kewajaran. Mereka harus bersiaga di rumah sakit selama 24 jam penuh, menangani pasien kritis, namun tetap harus memikirkan cara bertahan hidup secara finansial.
Fenomena ini memaksa banyak dokter residen untuk mengandalkan tabungan pribadi atau sokongan dana dari orang tua meskipun usia mereka sudah sangat matang. Tidak sedikit dari mereka yang mengalami tekanan mental luar biasa akibat masalah finansial yang menghimpit di tengah tuntutan akademik.
dr. Saga menekankan bahwa sudah saatnya Indonesia beralih sepenuhnya ke sistem hospital-based. Dengan sistem ini, rumah sakit tempat residen bekerja bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan dan gaji mereka sebagai tenaga profesional.
Selain masalah gaji, sistem ini juga diharapkan dapat menghapus kesenjangan sosial di kalangan calon dokter spesialis. Tanpa gaji, hanya mereka yang memiliki latar belakang ekonomi kuat yang bisa dengan tenang menempuh pendidikan spesialis hingga selesai.
Perubahan sistem ini bukan hanya soal keadilan bagi para dokter, tetapi juga tentang kualitas layanan kesehatan. Jika dokter merasa tenang secara finansial, mereka dapat memberikan fokus penuh pada kesembuhan pasien tanpa distraksi beban hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....