Bahaya Olahraga Ektrem di Akhir Pekan
- 24 Mei 2026 06:05 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID,Natuna - Fenomena weekend warrior, yaitu orang yang hanya berolahraga berat di akhir pekan, ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap sepele. Meski terlihat aktif, pola olahraga seperti ini justru berpotensi meningkatkan risiko bagi kesehatan tubuh. Lalu apakah balas dendam di akhir pekan berbahaya bagi kesehatan? Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP :
Diera sekarang ini banyak sekali pekerja kantoran di kota-kota besar yang dari hari Senin sampai Jumat aktivitas fisiknya hanya duduk bersandar di kursi empuk sambil meeting dan ngemil gorengan. Begitu hari Minggu tiba, mereka mendadak merasa bersalah lalu langsung melakukan olahraga ekstrem tanpa pemanasan. Fenomena komikal ini biasa kita sebut sebagai olahraga balas dendam. Sebuah pelarian fisik demi mendapatkan validasi kesehatan di media sosial. Nah, lucunya organ jantung kita yang udah terbiasa hidup santai dan rileks selama 5 hari berturut-turut itu tidak akan pernah siap menerima hantaman beban kerja ekstrem secara tiba-tiba.
Secara medis, lonjakan denyut jantung yang terlalu drastis pada individu yang jarang olahraga bisa memicu terjadinya robekan pada plak kolesterol di pembuluh darah koroner. Jika plak ini masih kecil, maka kurang dari 50% tidak akan menimbulkan gejala. Begitu melakukan olahraga berat, maka tensin akan naik dan detak jantung juga akan ikut naik, resikonya ruptur. Dan ruptur sendiri bisa memicu serangan jantung, robekan dari plak yang mendadak inilah yang akan menyumbat total aliran darah. secara instan memicu serangan jantung fatal tepat di tengah lapangan olahraga. Itu sebabnya kenapa orang yang sehari-harinya terlihat tidak ada keluhan, yang sehat tiba-tiba mengalami serangan jantung lalu tersungkur saat olahraga.
Perlu kita pahami bahwwa esensi utama dari olahraga adalah melatih performa otot jantung secara berkala dan konsisten. Bukan sebuah ajang pembuktian ketahanan fisik setahun sekali. Banyak kasus kematian mendadak saat berolahraga yang justru menimpa usia produktif karena mereka memaksakan diri melewati batas kemampuan tubuhnya yang sedang kelelahan. Jantung kita membutuhkan proses adaptasi beban yang bertahap, bukan kejutan fisik ekstrem yang bisa berujung pada berhentinya pompa darah secara permanen. Jangan sampai niat awal kita ingin hidup sehat demi masa depan keluarga malah berubah menjadi berita duka yang mengejutkan seluruh teman kantor di hari Senin.
Aktivitas fisik harusnya menjadi sarana untuk memperpanjang kebersamaan kita dengan orang-orang tercinta, bukan malah menjadi garis finish kehidupan yang terlalu cepat. Jadi, mulailah membagi waktu untuk melakukan olahraga dengan sesi-sesi kecil yang berdurasi pendek terlebih dahulu. Contohnya dengan melakukan olahraga yang sehat yaitu 150 menit dalam satu minggu dengan dibagi menjadi 5 kali, 30 menit olahraga aerobik intensitas sedang, pemanasan, dan pendinginannya tidak dihitung. Kemudian sisipkan tiga kali resistance training untuk memastikan otot kita tetap terjaga. Apalagi kalau usia kita sudah di atas 30 tahun. Ingat, konsistensi kecil yang dilakukan secara rutin jauh lebih disayangi oleh pembuluh darah jantungmu kita daripada durasi panjang yang dilakukan secara ugal-ugalan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....