Tips agar Air Ketuban Cukup saat Masa Kehamilan

  • 15 Mei 2026 18:39 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID,Natuna - Kurangnya cairan ketuban selama masa kehamilan dapat meningkatkan risiko gangguan pada pertumbuhan janin. Cairan ketuban memiliki fungsi penting untuk melindungi bayi dari benturan, menjaga suhu dalam rahim, serta membantu perkembangan organ tubuh janin. Karena itu, ibu hamil perlu menjaga jumlah air ketuban tetap normal hingga waktu persalinan tiba.

Menurut informasi dari bidan puskesmas Ranai Kabupaten Natuna,Kepri Nazira saat menghadiri acara kelas ibu hamil di Posyandu Bunda Kasih di Desa Sepempang mengatakan,salah satu cara utama menjaga kecukupan air ketuban adalah memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik setiap hari. Ibu hamil dianjurkan minum air putih dalam jumlah cukup karena cairan tubuh ibu sangat memengaruhi produksi air ketuban di dalam rahim.

“Jadi ibu-ibu memperbanyak konsumsi air putih,selain itu juga ibu hamil konsumsilah makanan yang mengandung banyak air.Banyak makan buah seperti semangka, melon, jeruk, dan mentimun diketahui membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh secara alami”ucapnya senin, 11/05/2026.

Sayuran hijau juga dapat menjadi pilihan karena mengandung vitamin dan mineral yang penting bagi kesehatan ibu dan janin. Dengan pola makan yang sehat dan seimbang, produksi cairan ketuban dapat tetap terjaga selama masa kehamilan berlangsung.

Nazira juga menjelaskan bahwa ibu hamil perlu menghindari aktivitas yang menyebabkan dehidrasi berlebihan. Paparan cuaca panas terlalu lama atau aktivitas fisik berat tanpa istirahat cukup dapat membuat tubuh kehilangan cairan lebih cepat.

Kondisi dehidrasi dapat berdampak pada berkurangnya volume air ketuban. Oleh sebab itu, ibu hamil dianjurkan beristirahat cukup dan segera memenuhi kebutuhan cairan setelah beraktivitas agar kondisi tubuh tetap stabil.

Pemeriksaan kehamilan secara rutin juga menjadi langkah penting untuk memantau jumlah air ketuban. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan ultrasonografi atau USG untuk mengetahui kondisi janin sekaligus mengukur volume cairan ketuban.

Melalui pemeriksaan rutin, masalah seperti air ketuban terlalu sedikit atau oligohidramnion dapat dideteksi lebih awal. Penanganan cepat akan membantu mengurangi risiko komplikasi pada ibu maupun bayi.

Beberapa ibu hamil terkadang mengalami penurunan cairan ketuban akibat kondisi kesehatan tertentu, seperti tekanan darah tinggi atau diabetes. Penyakit tersebut dapat memengaruhi fungsi plasenta sehingga produksi air ketuban menjadi terganggu.

Oleh karena itu, Nazira berpesan ibu hamil perlu menjaga kondisi kesehatan dengan mengikuti anjuran dokter serta rutin mengontrol penyakit yang dimiliki. Pengelolaan kesehatan yang baik akan membantu menjaga perkembangan janin tetap optimal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....