Tren Remaja Sekarang Lebih Sadar Mental Health

  • 05 Mei 2026 09:02 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Fenomena meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental di kalangan remaja saat ini menjadi salah satu pergeseran budaya yang paling signifikan di era digital. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung menganggap isu kejiwaan sebagai hal tabu atau memalukan, remaja masa kini justru lebih terbuka dalam membicarakan kondisi emosional mereka. Keterbukaan ini didorong oleh kemudahan akses informasi melalui media sosial yang secara masif menyebarkan kampanye mengenai pentingnya menjaga kesejahteraan batin.

Pakar psikologi anak, remaja, dan keluarga, Sani Budiantini Hermawan, S.Psi dalam diskusinya di Siniar Hoho-Hihi on the Weekend mengonfirmasi tren positif ini melalui pengalamannya di ruang praktik. Beliau menceritakan adanya pergeseran di mana banyak klien usia remaja, seperti anak SMA, kini berani datang secara mandiri untuk berkonsultasi tanpa paksaan dari orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa remaja sekarang mulai memahami bahwa mencari bantuan profesional adalah langkah yang bijak dan berani untuk menjaga stabilitas hidup mereka.

Meskipun kesadaran ini meningkat, Sani Budiantini mengingatkan adanya tantangan baru, yaitu kecenderungan remaja untuk melakukan self-diagnose atau mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi di internet. Banyak remaja yang merasa memiliki gangguan tertentu hanya setelah membaca gejala di media sosial tanpa validasi dari ahlinya. Oleh karena itu, peran psikolog sangat penting untuk memberikan edukasi bahwa perasaan sedih atau cemas yang dialami harus dipahami secara mendalam melalui asesmen yang tepat.

Tekanan akademis yang semakin tinggi serta persaingan di dunia digital sering kali menjadi pemicu utama stres pada remaja saat ini. Sani menjelaskan bahwa remaja sering kali merasa tertekan oleh standar kesuksesan yang ditampilkan di media sosial, yang memicu rasa tidak percaya diri atau insecure. Dalam sesi konsultasi, para ahli biasanya membantu remaja untuk memproses emosi-emosi tersebut agar tidak menumpuk menjadi gangguan mental yang lebih serius seperti depresi.

Di sisi lain, tren kesadaran mental ini juga menjadi ujian bagi pola asuh atau parenting di rumah. Sani Budiantini menekankan bahwa orang tua harus bisa menjadi pendengar yang baik dan tidak mudah melabeli anak mereka "lebay" atau "kurang bersyukur" saat mereka berkeluh kesah. Validasi perasaan dari orang tua adalah kunci utama agar remaja merasa aman untuk terbuka dan tidak mencari pelarian yang salah di luar rumah.

Para ahli berpendapat bahwa remaja yang sadar akan kesehatan mental cenderung memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik di masa depan. Mereka belajar untuk mengenali batasan diri, mengelola konflik, dan berani berkata "tidak" pada lingkungan yang dianggap toksik. Kesadaran ini merupakan investasi jangka panjang agar generasi mendatang memiliki ketahanan mental atau resiliensi yang lebih kuat dalam menghadapi dinamika kehidupan yang semakin kompleks.

Sebagai kesimpulan, meningkatnya kesadaran remaja terhadap kesehatan mental harus didukung oleh ketersediaan layanan profesional yang mudah dijangkau dan ramah remaja. Pendidikan mengenai literasi kesehatan mental perlu terus digalakkan agar remaja tidak hanya sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar paham cara menjaga kesehatan jiwa mereka. Pada akhirnya, generasi yang sehat secara mental akan mampu menciptakan lingkungan sosial yang lebih empati dan suportif bagi sesama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....