Ayah Wajib "Bonding" sejak Anak Masih di Kandungan

  • 05 Mei 2026 08:53 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Membangun ikatan emosional atau bonding antara orang tua dan anak idealnya tidak dimulai saat bayi lahir, melainkan sejak janin masih berada di dalam kandungan. Selama ini, peran dalam masa kehamilan sering kali dianggap sebagai domain ibu semata, padahal keterlibatan aktif seorang ayah sangat krusial bagi perkembangan psikologis anak di masa depan. Ayah yang terlibat sejak dini akan memiliki kesiapan mental yang jauh lebih baik saat memasuki fase pengasuhan nyata dibandingkan mereka yang bersikap pasif.

Pakar psikologi anak, remaja, dan keluarga, Sani Budiantini Hermawan, S.Psi dalam diskusinya di Siniar Hoho-Hihi on the weekend menekankan bahwa ayah memiliki kewajiban moral untuk melakukan interaksi fisik dan verbal secara rutin. Beliau menjelaskan bahwa janin sebenarnya sudah bisa merespons stimulasi dari luar melalui indra pendengarannya yang mulai berkembang pesat. Interaksi sederhana seperti mengelus perut ibu atau mengajak janin berbicara merupakan langkah awal yang sangat efektif untuk memperkenalkan kehadiran figur ayah kepada calon buah hati.

Dari sisi teknis, suara laki-laki yang cenderung memiliki frekuensi rendah atau berat justru lebih mudah menembus cairan ketuban dan dikenali oleh janin sebagai stimulus yang menenangkan. Sani Budiantini menyebutkan bahwa melalui percakapan konsisten, janin mulai membina kedekatan emosional dengan suara ayahnya sendiri. Hal ini bertujuan agar ketika bayi lahir ke dunia, ia tidak merasa asing dengan suara sang ayah dan merasa lebih aman saat berada dalam dekapannya.

Selain bermanfaat bagi janin, proses bonding ini sangat penting bagi kesehatan mental sang ayah untuk membangun rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat. Sering kali, ayah yang kurang terlibat selama masa kehamilan akan merasa seperti "orang asing" atau pengamat saja ketika bayinya telah lahir. Dengan terlibat sejak masa kandungan, seorang laki-laki akan mengalami transisi psikologis yang lebih halus dari seorang suami menjadi seorang ayah yang suportif dan bertanggung jawab.

Para ahli juga menyoroti bahwa keterlibatan ayah secara dini berdampak langsung pada kesejahteraan emosional ibu selama masa kehamilan. Dukungan ayah dalam bentuk perhatian terhadap janin dapat mengurangi tingkat stres pada ibu, yang secara biologis juga akan berpengaruh pada lingkungan tumbuh kembang janin di dalam rahim. Ibu yang merasa didukung oleh pasangannya dalam pengasuhan pralahir cenderung memiliki kondisi kehamilan yang lebih stabil dan bahagia.

Penelitian di bidang psikologi perkembangan menunjukkan bahwa stimulasi suara dan sentuhan ayah dapat memengaruhi perkembangan saraf otak janin secara positif. Kedekatan yang terbangun sejak dalam kandungan menjadi pondasi utama terbentuknya secure attachment atau kelekatan yang aman bagi anak saat tumbuh dewasa nanti. Anak yang memiliki kedekatan dengan ayahnya sejak dini terbukti memiliki tingkat resiliensi dan kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam kehidupan sosialnya.

Oleh karena itu, melakukan bonding sejak masa kandungan bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan kebutuhan mendasar bagi keutuhan struktur keluarga. Ayah diingatkan untuk tidak melewatkan momentum emas sembilan bulan ini sebagai investasi emosional jangka panjang bagi anak. Pada akhirnya, kehadiran ayah yang nyata sejak dalam kandungan adalah kunci utama dalam menciptakan lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan harmonis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....