Apa Itu Playing Victim ?
- 25 Mar 2026 12:19 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Prilaku yang merasa dirinya selalu menjadi korban dan sering menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi dalam hidupnya , disebut dengan istilah Playing victim.
Sikap playing victim tidak muncul begitu saja Victim mentality dapat muncul karena berbagai macam faktor, seperti pengaruh dari pengalaman masa lalu, pola asuh yang kurang tepat, trauma emosional. Prilaku ini tidak termasuk gangguan jiwa. Jika dibiarkan akan menimbulkan dampak Psikologis dan sosial.
Dari alodokter, Tidak hanya berdampak pada diri sendiri, perilaku playing victim juga akan membebani orang-orang di sekitarnya yang percaya bahwa mereka adalah “korban” dari setiap masalah.
Untuk itu,Penting untuk kita mengenali ciri-ciri playing victim :
1.Selalu menyalahkan pihak lain
Ciri-ciri utama playing victim adalah sering menyalahkan pihak lain ketika terjadi suatu kesalahan atau masalah dalam hidupnya, baik di lingkungan pekerjaan, rumah, atau pun masyarakat. Orang yang playing victim memiliki kesenangan tersendiri saat orang lain merasa bersalah atas kesalahan yang diperbuatnya.
2.Menghindari tanggung jawab
Orang dengan victim mentality sering menghindari tanggung jawab, menuding orang lain, dan menempatkan diri sebagai “korban” untuk mendapatkan simpati. Ia juga biasanya menolak bantuan orang lain karena tidak ingin memperbaiki masalah, hanya ingin dikasihani.
3.Selalu merasa dirinya tak berdaya
Orang yang playing victim sering berbicara negatif tentang dirinya sendiri dengan tujuan membuat orang lain merasa kasihan, seperti berkata, “Segala sesuatu yang buruk selalu terjadi padaku,” atau “Tidak ada yang peduli padaku.” Seiring berjalannya waktu, pola pikir negatif ini justru mempersulitnya keluar dari masalah. Boleh dibilang, ia secara sadar memanipulasi dirinya sendiri agar tidak melakukan upaya apa pun untuk memperbaiki situasi yang buruk.
4.Kurang percaya diri
Orang yang selalu melihat dirinya sebagai korban sering memiliki rasa percaya diri yang rendah. Mereka mungkin merasa tidak cukup pintar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik atau kurang berbakat untuk meraih kesuksesan. Pikiran ini bisa hadir setelah pengalaman gagal yang membuatnya menempatkan diri sebagai korban.
Akibatnya, perspektif negatif ini menghambat kemajuan dan membuat mereka sulit mencapai tujuan baru. Di sisi lain, mereka juga bisa merasa tidak nyaman atau iri ketika melihat orang lain berhasil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....