Mengenal Penyebab Kecanduan Scrolling
- 16 Mar 2026 05:13 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID,Natuna - Pernahkah Anda merasa awalnya hanya ingin scrolling 5 menit saja untuk lihat media sosial lalu tiba-tiba 1 jam udah lewat? Kalau pernah tenang aja, Anda tidak sendirian. Dan ini bukan semata-mata masalah disiplin. Ada mekanisme biologis di otak yang membuat kita sulit berhenti scrolling. Lalu kenapa kita tidak bisa berhenti scrolling? Apakah otak kita sedang diperdaya? Atau bagaimana? Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP :
Di dalam otak manusia ada sistem yang disebut reward system, dan sistem ini dirancang untuk membuat kita merasa senang ketika melakukan sesuatu yang penting bagi kelangsungan hidup. Seperti misalnya makan, interaksi sosial, atau mencapai suatu tujuan.
Ketika sistem ini aktif, maka otak akan melepaskan dopamine dan dopamin ini sering disebut sebagai hormon kebahagiaan. Meskipun sebenarnya lebih tepat disebut sebagai hormon motivasi. Dia memberikan sinyal ke otak bahwa sesuatu itu menyenangkan dan layak diulang.
Masalahnya aplikasi media sosial itu dirancang sangat efektif memicu pelepasan dopamin ini. Setiap kali kita scrolling, kita tidak tahu apa yang akan muncul berikutnya. Bisa jadi ada video lucu, informasi menarik, atau sesuatu yang mengejutkan. Mekanisme ini disebut variable reward system. Hadiahnya tidak muncul setiap saat, tapi justru karena tidak bisa diprediksi, otak menjadi makin penasaran.
Ketika seseorang terus mendapatkan stimulasi dopamin kecil secara berulang, maka otak mulai menyesuaikan diri. Aktivitas yang lebih lambat seperti membaca buku atau belajar bisa jadi terasa kurang menarik. Otak sudah terbiasa dengan rangsangan yang cepat yang berubah setiap beberapa detik. Hal ini menjelaskan kenapa banyak orang merasa sulit fokus setelah terlalu lama menggunakan media sosial.
Perhatian kita dilatih untuk berpindah sangat cepat dari satu hal ke hal yang lain. Ketika harus membaca artikel panjang atau menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi, otak merasa seperti sedang dipaksa berjalan pelan setelah terbiasa berlari.
Penelitian di bidang neuroscience menunjukkan bahwa paparan konten yang cepat dan terus-menerus dapat mempengaruhi pola aktivitas otak pada area perhatian dan kontrol impuls. Bukan berarti otak itu rusak, tapi pola kerjanya bisa berubah sementara karena kebiasaan.
Banyak orang akhirnya mencoba berbagai cara untuk mengurangi waktu layar. Ada yang mematikan notifikasi, ada yang menghapus aplikasi, bahkan ada yang menggunakan fitur pembatas waktu. Nah, langkah-langkah kecil seperti ini bisa membantu otak kembali menemukan ritme yang lebih seimbang. Yang menarik lagi ketika seseorang mulai mengurangi paparan media sosial, maka banyak yang melaporkan bahwa tidur mereka menjadi lebih nyenyak, fokusnya meningkat, suasana hati lebih stabil. Nah, ini semua bukan kebetulan. Ketika otak tidak terus-menerus dibombardir oleh rangsangan digital, sistem saraf memiliki kesempatan untuk kembali tenang.
Teknologi bukan musuh kita. Ponsel pintar adalah alat yang luar biasa yang bisa bekerja membantu kita belajar, bekerja, dan komunikasi. Menggunakan teknologi secara sadar adalah salah satu keterampilan penting di zaman modern. Bukan soal berhenti menggunakan media sosial, tetapi soal mengendalikan teknologi agar tidak mengendalikan kita. Hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan hanya dengan menatap layar tanpa henti. Kadang yang kita butuhkan hanyalah meletakkan ponsel sejenak, mengangkat kepala, dan melihat dunia nyata yang sebenarnya jauh lebih menarik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....